Resensi Film-Bhayu MH

Sunshine Becomes You

Year : 2015 Director : Rocky Soraya Running Time : 125 minutes Genre : , , , ,
Movie review score
3/5

Produser   : Ram Soraya, Rocky Soraya
Sutradara : Rocky Soraya
Penulis      : Riheam Junianti, Ilana Tan
Pemeran   : Herjunot Ali, Nabilah JKT48, Boy William

 

Menyaksikan film ini karena judulnya menarik, saya tidak tahu kalau diangkat dari novel laris. Karena itu, tidak ada ekspektasi di kepala saya sebelumnya. Tetapi, saya sudah cukup dibuat takjub dengan sinematografi yang cukup bagus. Dan karena ada Herjunot Ali, saya langsung menebak film ini buatan MD-Entertainment. Makin lama menikmati filmnya, gaya sutradara Rocky Soraya makin terlihat.

Cerita dimulai dengan kamera mengikuti dua karakter utama yaitu Ray Hirano (Boy William) dan Mia Clark (Nabilah). Mereka berdua ternyata bekerja di tempat yang sama, sebuah studio tari kecil di New York-Amerika Serikat. Bedanya, Mia adalah pelatih tari balet kontemporer sementara Ray anggota boys band. Ray sudah lama ‘naksir’ Mia -apalagi keduanya sama-sama orang Indonesia di negeri asing- tetapi ia tak punya keberanian.

Ray ini punya kakak bernama Alex Hirano. Nama belakang Hirano karena ayah mereka orang Jepang, sementara ibu mereka orang Indonesia. Alex ini berbeda perangai dengan Ray yang cenderung easy going, ceria dan santai. Alex justru sangat disiplin, keras bahkan disebut “psycho” oleh Ray sendiri. Tetapi itu justru membuatnya jadi pianis internasional sukses.

Satu ketika, Ray membawa Alex ke studionya untuk mengenalkannya kepada Mia. Tanpa dinyana, di tangga justru mereka ‘disambut’ Mia yang jatuh terguling. Celakanya, tubuh Mia malah menimpa Alex dan menyebabkan tangan kirinya terluka. Dan itu fatal karena ia harus membatalkan empat konsernya yang akan segera berlangsung. Ia sendiri harus beristirahat total dari bermain piano selama 2 bulan penuh.

Sebagai penebus rasa bersalah, Mia menawarkan diri untuk merawat Alex hingga sembuh. Dan Alex pun memanfaatkan Mia bukan sekedar sebagai asisten pribadinya, tetapi lebih sebagai pembantu rumah tangganya. Maka, mulailah hari-hari Mia di neraka, harus datang setiap pagi ke apartemen Alex dan baru pulang di malam hari.

Meski mendapatkan perlakuan kasar dari Alex, Mia justru menjadi makin disiplin dan bergairah dalam hidupnya. Ia pun mulai bisa melihat sisi baik dari diri Alex yang dingin dan kasar. Sebaliknya, Alex pun makin bergantung pada Mia untuk mengurus hidupnya. Bisa ditebak, cinta tumbuh di antara keduanya karena terbiasa.

Tetapi saat keduanya telah saling jatuh hati, keadaan berubah. Alex telah sembuh tangannya dan Mia memutuskan menerima tawaran grup tari lamanya yang dipimpin Dee Black untuk kembali bergabung. Sebagai lulusan “The Juilliard School”, ia sebenarnya merupakan salah satu lulusan terbaik di angkatannya. Dan justru keputusannya untuk mundur dari dunia tari profesional yang di negara maju bergaji tinggi, dipertanyakan banyak orang. Ketika kali itu ia memutuskan untuk mencoba kesempatan emas tampil di panggung Broadway yang megah, justru jawaban pertanyaan itu menghentak: Sebab kenapa Mia mundur dari dunia tari profesional dan bahkan tidak boleh jatuh cinta.

Yah, sebenarnya film ini punya potensi untuk lebih dari lumayan. Tetapi, sayangnya cuma berhenti di situ saja. Kesalahan paling fatal justru adalah pemilihan Nabilah dari JKT48 sebagai karakter Mia Clark. Kenapa? Karena Mia digambarkan seorang penari profesional hebat lulusan terbaik The Juilliard School. Tetapi, saat menari, Nabilah tidak tampak begitu. Maaf ya, saya pernah belajar tari dan beberapa kali punya kekasih penari. Well, paha, pinggul dan kaki Nabilah jelas-jelas bukan milik penari. Gerakannya kaku sekali dan terlalu sederhana, bahkan en pointe atau pointe work-nya tidak sempurna. Saya agak heran kenapa tidak meng-casting pendatang baru yang penari profesional? Banyak lho yang cantik dan seksi (teman dekat saya juga ada kok. Hehe…). Kalau dibilang harus mengajari akting lagi, lho, bukankah Nabilah juga bukan aktris? Dia penyanyi girls band dengan koreografi yang sangat sederhana dibandingkan dengan penari profesional.

Sementara pemain lain tampil lumayan. Walau sebenarnya akting Herjunot Ali ya memang begitu itu, pas untuk membawakan karakter keras karena tipe wajah dan rahangnya mendukung. Pengambilan kamera cukup jeli sehingga “body double” tangan pianis yang sedang memainkan piano tak begitu kentara dengan Herjunot Ali yang cuma berpura-pura saja. Justru bagi saya, Boy William tampil mengejutkan. Ia mampu rileks sehingga pembawaannya begitu natural.

Jalinan cerita sebenarnya lumayan. Apalagi tampak jelas The Juilliard School mendukung penuh film ini dengan penggunaan lokasi shooting di kampusnya yang terkenal itu. Penggunaan drone dan crane juga efektif sehingga menghasilkan gambar indah. Walau sayang ada footage kota NY yang justru beberapa kali berulang.

Inti cerita mirip Fifty Shades of Grey (2015), dimana ada seorang pria berkuasa jatuh cinta pada wanita yang jadi ‘bawahan’-nya. Terlihat jelas sekali karakter Alex adalah dominant sementara Mia adalah submissive. Hanya saja, karena ini film Indonesia, maka minus adegan seks dan erotis. Walau sebagai lelaki, kalau ada seorang wanita cantik dan seksi ‘menawarkan diri’ seperti Mia untuk ‘melakukan apa saja’ guna ‘menebus kesalahan’, sudah pasti satu hal itu yang pertama terlintas di benak bukan?

Secara keseluruhan, film ini masih layak dinikmati terutama bagi remaja dan dewasa muda. Romansanya cukup ‘kena’ dan menyenangkan untuk dirasakan di hati. Beberapa adegan juga memberikan selingan tawa ringan. Bagus untuk mengisi waktu liburan akhir tahun bersama kekasih… Oh ya, judul film ini adalah lagu tema yang dikisahkan dikarang oleh Alex untuk Mia. Lumayan enak di telinga walau tidak terlalu istimewa.

Catatan: Klik pada gambar poster di kiri atas untuk melihat trailer-nya.

Leave a Reply