Resensi Film-Bhayu MH

Surat dari Praha

Year : 2016 Director : Angga Dwimas Sasongko Running Time : 94 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
4/5

Produser  Angga Dwimas Sasongko, Anggia Kharisma, Handoko Hendroyono, Chicco Jerikho
SutradaraAngga Dwimas Sasongko
Penulis       : M. Irfan Ramli
Pemeran    : Julie Estelle, Tio Pakusadewo, Widyawati, Rio Dewanto

 

Nah! Ini dia film yang sangat saya tunggu. Luar biasa! Film drama romantis berlatar belakang sejarah. Selaras dengan tulisan saya yang pernah menjadi HeadLine di Kompasiana berjudul “Mengobati Luka Sejarah Peristiwa 1965” (silahkan klik di sini untuk membacanya, sudah dibaca oleh lebih dari 1.500 orang), film ini mengangkat derita psikologis para korban Peristiwa 1965. Dari judulnya, kita bisa menebak bahwa mereka adalah orang Indonesia yang berada di Praha, ibukota Cekoslowakia, yang kini sudah menjadi Republik Cek karena berpisah dengan Slowakia. Bukan sembarang orang, karena mereka adalah mahasiswa Indonesia terpintar yang sedang studi lanjutan atau ditugaskan belajar oleh pemerintah di negeri tersebut. Bagi yang belum tahu, di masa itu dimana sedang berlangsung Perang Dingin, dunia terbelah menjadi dua: Blok Barat dan Blok Timur. Blok Barat dipimpin Amerika Serikat, sementara Blok Timur dipimpin oleh Uni Sovyet. Sebenarnya, ada kekuatan ketiga yaitu Gerakan Non Blok dan Indonesia termasuk pendirinya. Sayangnya, kebijakan politik Orde Lama pimpinan Presiden Soekarno cenderung ke Blok Timur. Apalagi setelah peristiwa pemberontakan PRRI/Permesta dimana CIA terlibat aktif disusul Konfrontasi Malaysia, jelas Indonesia menjadi berseberangan dengan Blok Barat. Celakanya, kemudian konstelasi politik berubah. Terjadi “Peristiwa 1965” yang dituduhkan kepada PKI, tetapi sebenarnya adalah perebutan kekuasaan oleh Soeharto dan TNI AD untuk menggulingkan rezim Soekarno. Dan para pendukung Soekarno pun jadi korban. Mereka tidak saja ada yang ditangkap dan dibunuh, tetapi juga diasingkan.

Seperti para mahasiswa yang sedang tugas belajar di Praha, mereka tidak bisa pulang ke tanah air. Sebabnya, kewarganegaraan mereka dicabut. Maka, jadilah mereka manusia tanpa warga negara (stateless). Dan kisah film ini pun berlatar-belakang peristiwa ironis dan tragis tersebut.

Awalnya, latar film berada di Jakarta, dimana ada seorang wanita muda bernama Larasati (Julie Estelle) yang sudah lama pergi dari rumah. Ia terpaksa kembali untuk menjenguk ibunya Sulastri (Widyawati) yang sakit keras karena memerlukan pinjaman surat rumah untuk diagunkan. Larasati memerlukannya untuk membayar pengacara guna bercerai dari suaminya. Tanpa diduganya, seusai operasi, ibunya wafat. Dalam surat wasiat yang dititipkan kepada notaris, ibunya memang mewariskan rumah beserta isinya kepada dirinya selaku putri tunggalnya. Hanya saja, ada syarat yang harus dipenuhinya, yaitu mengantarkan sekotak kayu berukir berisi surat disertai satu pucuk surat beramplop. Tujuannya adalah seseorang bernama Jaya (Tio Pakusadewo) yang berada di Praha.

Ternyata, pekerjaan yang tampak mudah tidaklah mudah. Sesampainya di Praha, Larasati ditolak oleh Jaya dan lelaki seumuran ibunya itu pun menolak menandatangani surat tanda terima. Larasati yang keras-kepala, manja dan cenderung sombong pun kemudian berubah sikap begitu mengetahui kondisi sebenarnya dari Jaya, seorang sarjana teknik nuklir yang terpaksa bekerja sebagai juru pembersih ruangan (janitor atau cleaning service). Ia pun kemudian tahu siapakah lelaki yang ternyata pernah menjalin cinta dengan ibunya itu. Dalam konteks tersebut, ternyata malah Jayalah cinta sejati ibunya. Sehingga, Larasati menuduh justru Jaya-lah penyebab kematian ayahnya yang wafat karena sengsara saat mengetahui bahwa ia menikahi wanita yang tidak mencintainya.

Film ini menarik sekali bagi saya karena tautan pengalaman pribadi keluarga saya sendiri. Tetapi, tentu sebagai kritikus film saya musti obyektif. Saya mencoba menilai film ini dari berbagai sisi.

Pertama-tama, film ini mungkin terasa membosankan bagi generasi Z yang buku sejarahnya sudah direvisi dan tidak mengalami zaman Orde Baru. Latar belakang sejarah yang jadi sandaran kisahnya terasa jauh dan ‘nggak nyambung‘ dengan hidup ‘kekinian’ mereka. Karena itu, mungkin justru menarik kalau kita bisa membolak-balik lagi catatan sejarah kita sendiri. Terutama dari sisi tafsir berbeda dengan tafsir resmi pemerintah saat itu.

Dari segi akting, saya acungkan jempol pada Julie Estelle yang mampu mengimbangi akting aktor kawakan Tio Pakusadewo. Ia terlihat begitu alami dan natural. Walau jujur saya jadi ‘kepo’ seperti apakah almarhum ayahnya karena wajah Larasati yang ‘bule’. Sepanjang film, bahkan fotonya saja tidak diperlihatkan. Kalau akting Widyawati yang beberapa kali memenangkan Piala Citra sih tidak perlu diragukan lagi, walau kemunculannya sebagai pemeran pembantu tidaklah sekerap kedua pemeran utama. Demikian pula Chicco Jerikho pun tak mengecewakan.

Film ini jelas didukung penuh KBRI di Praha dan pemerintah Republik Cek. Karena terlihat jelas ada scene kedua karakter pemeran utama berada di depan KBRI dengan diantar oleh mobil polisi. Cuma saya merasa ‘nanggung’, kenapa kok keduanya tidak sekalian saja masuk ke dalam Kedubes dan cuma digambarkan dari luar pagar saja. Adegan di dalam bus yang justru digunakan dalam poster resminya, sepanjang film saya malah tidak melihatnya. Karena cuma digambarkan kedua karakter pemeran utama masuk ke dalam bus sementara kamera tetap di luar.

Penampilan cameo para pelaku sejarah asli di akhir film, dimana mereka digambarkan berkumpul di rumah Jaya untuk bernostalgia, bermain piano sambil bernyanyi dan berceritta, sangat bagus. Akting mereka pun wajar, tidak tampak tegang sebagai orang biasa. Secara pribadi, saya sendiri agak bingung, apakah gaji seorang juru pembersih ruangan memadai untuk flat atau apartemen dengan luas seperti digambarkan dalam film. Cuma, mungkin dari segi pembuatan film, bila mencari yang lebih sempit lagi, bisa jadi akan kesulitan mencari tempat untuk meletakkan peralatan. Jadi, masih dimaklumi lah…

Secara keseluruhan, saya acungkan jempol pada keberanian produser memproduksi film yang jelas akan menjadi catatan sejarah tersendiri ini. Karena hampir pasti, film dengan genre seperti ini tidak akan mampu melampaui “angka keramat” 1 juta penonton. Tetapi, saya pribadi berniat mengkoleksi piringan cakram padat magnetiknya apabila sudah diedarkan nanti.

 

 

 

Leave a Reply