Resensi Film-Bhayu MH

Surga Yang Tak Dirindukan

Year : 2015 Director : Kuntz Agus Running Time : 124 minutes Genre : , , , , ,
Movie review score
3/5

Film yang dipromosikan sebagai film keluarga, diluncurkan pada 15 Juli 2015 saat bulan Ramadhan. Berhasilkah mengadaptasi novelnya yang meraih sejumlah penghargaan?

Jalan Cerita

[spoiler alert!]

Film dibuka dengan adegan yang tampak berlatar waktu tahun 1980-an, dilihat dari pakaian dan kendaraannya. Penggambaran yang dalam gerak lambat (slow motion), membuat penonton mudah menerka bahwa itu adalah kilas balik (flash back). Dan ternyata benar, adegan itu adalah mimpi dari seorang pria yang kemudian diketahui penonton bernama Prasetya (Fedi Nuril). Adegan itu menggambarkan saat Prasetya kecil melihat dengan mata kepala sendiri ibunya bunuh diri dengan menabrakkan diri ke mobil yang tengah melaju di jalan depan gang rumah mereka.

Di masa kini, Prasetya bersama dua sahabatnya Amran (Kemal Pahlevi) dan Hartono (Tanta Ginting) hendak menuju ke sebuah lokasi di Yogyakarta guna menyelesaikan tugas akhir kuliah. Dalam perjalanan, Prasetya melihat seorang anak terjatuh karena sepeda yang dikendarainya menginjak lubang. Maka, ia pun berinisiatif mengantarkan anak itu ke tempat tujuan walau ditentang Hartono.

Di tempat tujuan yang merupakan sebuah masjid, ternyata di pendopo-nya sedang diadakan acara mendongeng untuk anak-anak. Dan Prasetya yang seharusnya cuma mengantarkan anak yang terluka itu malah terpukau pada sosok wanita muslimah berjilbab yang sedang mendongeng. Saat perkenalan, wanita itu mengaku bernama Citra Arini (Laudya Cynthia Bella).

surga yg tak dirindukanSingkat cerita, mereka berdua saling jatuh hati. Dan setelah memohon izin ayahnya Sutedjo (Landung Simatupang), mereka kemudian menikah, hingga dikaruniai buah hati seorang putri. Arini digambarkan tidak bekerja secara profesional, hanya secara sosial selain ibu rumah tangga. Sementara Prasetya digambarkan mendirikan biro konsultan arsitektur bersama dua sahabatnya Amran dan Hartono.

Kehidupan keluarga Prasetya-Arini sempurna bak dongeng “keluarga Madaniyah” yang dituturkan oleh Arini kepada anak-anak di masjid. Bakat mendongeng ini ternyata juga menurun dan diajarkan kepada Nadia (Sandrina Michelle) putri tunggal mereka.

Masalah mendadak muncul saat Prasetya hendak meninjau proyek pembangunan jembatan yang dikerjakannya di Kulon Progo. Di jalan, mobilnya disalip oleh sebuah mobil yang dikemudikan secara ugal-ugalan, berzig-zag sambil mengklakson kencang. Tanpa diduga, mobil yang menyalipnya ternyata jatuh ke jurang. Prasetya pun menghentikan mobil dan terdorong untuk menolong. Ia membawa pengemudi mobil yang terluka dan sekarat ke rumah sakit.

Melalui penggambaran dari sisi pengemudi mobil yang celaka itu, barulah penonton tahu bahwa pengemudi ugal-ugalan ituternyata seorang wanita. Sesampai di R.S., diketahui ia ternyata sedang hamil. Setelah Prasetya menyatakan bertanggung-jawab, tindakan operasi pun dilakukan. Sang bayi dan ibunya pun selamat. Prasetya malah diminta suster memberi bayi itu nama, dan dipilihlah nama “Akbar Muhammad”.

Tanpa diduga, ibu muda yang kemudian diketahui bernama Meirose (Raline Shah) itu melarikan diri dari kamar RS. Dokter dan suster pun kelabakan mencarinya, tetapi Prasetya bisa menemukannya di atap. Meirose tengah berdiri di pinggiran dinding yang tinggi hendak meloncat bunuh diri. Meski ia tetap melompat walau Prasetya berupaya membujuknya, tetapi lelaki itu berhasil menangkap tangannya. Dan setelah berjuang termasuk meyakinkan Meirose untuk bertahan dengan janji akan menikahinya, Prasetya berhasil menyelamatkan wanita putus-asa tersebut.

Surga-yang-Tak-DirindukanSetelah mengontak sahabatnya, Prasetya meminta agar guru agamanya datang. Disaksikan oleh dokter dan seorang yang tidak jelas siapa –kemungkinan santri sang guru- Prasetya menikahi Meirose. Karena digambarkan merupakan anak hasil perkawinan pria asing dengan ibu Indonesia, Meirose beragama non-muslim sehingga ia masuk Islam dulu sebelum menikah. Penggambaran pakaian pernikahan internasional warna putih dan latar seperti gereja saat Meirose batal menikah sebelumnya pun menegaskan hal itu.

Kedua sahabatnya datang saat pernikahan telah usai dilaksanakan. Dan meski Hartono menentang, tetapi Amran terus mendukungnya. Maka, jadilah kini Prasetya berpoligami.

Celakanya, karena menyelamatkan dan menikahi Meirose, Prasetya tidak memberi kabar kepada Arini dan juga batal datang ke rumah mertuanya. Saat ia akhirnya ia sampai, ternyata ayah mertuanya meninggal dunia. Celakanya, di saat itulah ada seorang wanita yang tiba-tiba datang dan menangis memeluk jenazah Sutedjo, ayah Arini. Ternyata, dia adalah istri kedua almarhum. Dan itu jelas membuat Sulastri (Sitoresmi Prabuningrat), ibunda Arini terpukul. Tetapi kejadian itu kemudian malah bisa mengajarkan kesabaran kepada Sulastri dan Arini.

Niat Prasetya hendak berterus-terang pada Arini pun batal karena situasi duka itu. Ia pun terpaksa sembunyi-sembunyi saat mengunjungi Meirose.

Karena waktunya yang terbagi-bagi, selain perhatian pada keluarga Arini dan Nadia terpecah, fokus Prasetya pada pekerjaan pun berkurang. Akibatnya, proyek konstruksi jembatan yang sedang dikerjakan mundur dari target. Akibatnya, investor pemberi pekerjaan memutuskan untuk menunda proyek-proyek lain sampai proyek tersebut selesai lebih dulu. Tentu saja ada overhead cost yang harus ditanggung perusahaan Prasetya.

Kehidupan Prasetya makin kacau, termasuk jarang pulang ke rumah Arini. Ia malah memilih kerap berkunjung ke rumah Meirose untuk ikut merawat Akbar. Keanehan ini pun tercium Arini. Dan bukti akhirnya muncul setelah pembantu rumah tangga keluarga Arini menemukan bon di saku celana Prasetya yang akan dicuci. Bon itu berasal dari apotek dan Arini pun curiga pada nama “Akbar Muhammad Prasetya” di sana. Padahal, di scene sebelumnya Meirose dan Arini berpapasan saat sama-sama membeli obat di Apotek UGM. Berbekal bon itu, Arini pun menelepon untuk menelusuri alamat pemiliknya.

sytdArini berhasil menemukan rumah Meirose berdasarkan alamat yang didapatnya. Betapa hancur hatinya melihat mobil suaminya ada di halaman rumah orang lain. Bertepatan pula saat Prasetya keluar dari rumah diiringi seorang perempuan yang mencium tangannya dengan takzim. Jelas sudah bahwa itu adalah istri kedua suaminya. Sepeninggal Prasetya, Arini mendatangi rumah itu dan melabrak Meirose.

Setibanya Prasetya di rumah, kemarahan Arini meledak. Ia malah hendak minggat dari rumah milik orangtuanya itu. Tetapi justru Prasetya menenangkan dan ia yang memilih pergi. Arini dan Meirose di rumah masing-masing dan Prasetya di sebuah masjid kecil digambarkan sama-sama shalat dan berdo’a memohon jalan keluar dari ALLAH SWT.

Puncak kekacauan adalah saat Nadia hendak pentas mendongeng, tiba-tiba Akbar sakit. Prasetya pun memilih berbelok ke rumah Meirose. Arini yang meradang ditenangkan oleh ibunya. Kemudian, dengan jiwa besar, ia pun menelepon Prasetya yang tengah berada di rumah Meirose. Arini malah kemudian membantu memberikan saran kepada Meirose untuk memberikan minyak kayu putih kepada Akbar yang muntah-muntah karena masuk angin. Dan setelah Meirose bisa ditinggal, Prasetya akhirnya bisa muncul di pentas Nadia.

17vUCJe2k51428654377Atas nasehat ibunya, Arini pun akhirnya bisa menerima kehadiran Meirose. Apalagi, ia kemudian sadar bahwa Meirose bukanlah “wanita nakal perebut suami orang” yang kerap tercitrakan pada istri kedua. Ia pun berkunjung kembali ke rumah yang ditinggali Meirose dengan lebih tenang. Arini pun bisa mendengarkan kisah hidup wanita malang itu. Ia pun akhirnya memahami kondisi suaminya yang semata hendak menolong. Walau saat kedua sahabat suaminya hendak ikut membujuknya, Arini malah tampak kesal karena kedua lelaki itu malah lebih tahu soal itu daripada dirinya. Dan justru peran dua sahabat wanitanya yang membuat Arini sadar bahwa seharusnya ia masih bisa bersyukur pada kondisinya. Maka, Arini pun berdamai dengan dirinya, dengan suaminya, dan dengan Meirose.

Tanpa diduga, di perjalanan malam hari yang hujan, saat Prasetya hendak menolong seorang wanita yang dirampok, ia ditusuk oleh komplotan penjahat. Ia pun terkapar dan masuk RS. Meirose tahu lebih dulu dan mengabari Arini. Ia pun tiba di RS lebih awal, tetapi segera pergi begitu Arini datang. Apalagi Prasetya yang tak sadarkan diri malah mengigau memanggil-manggil nama Arini.

Momentum dirawatnya Prasetya di RS dipakai Arini untuk memperkenalkan Meirose kepada ibu dan anaknya. Juga kepada kedua sahabat wanitanya Sita (Zaskia Adya Mecca) dan Lia (Vitta Mariana). Dan tentunya kepada kedua sahabat Prasetya yang sebenarnya sudah pernah bertemu sebelumnya karena hadir saat pernikahan Prasetya dan Meirose.

Saat Prasetya sudah pulang ke rumah, Arini pun mengundangnya datang. Saat makan bersama yang canggung antara Prasetya dan kedua istrinya, Nadia mencairkan suasana dengan menyuapi Akbar. Malah, Nadia meminta agar Meirose dan Akbar menginap. Ia sudah bisa menerima bahwa Akbar adalah “pangeran kecil” yang akan jadi adiknya. Meski berat hati, akhirnya Meirose menerima tawaran itu. Mereka malah kemudian shalat Isya’ bersama.

Tetapi saat Shubuh tiba dan Arini mengajak Meirose shalat berjama’ah, ternyata Meirose tidak di kamar. Ada pesan video yang direkam di smartphone yang ditinggalkan di kasur bersama bayi Akbar. Intinya, Meirose memilih pergi.

Arini dan Prasetya pun panik. Mereka kuatir Meirose hendak nekat bunuh diri lagi. Mereka pun menyusul ke rumah Meirose, tapi dari pembantunya didapat informasi kalau majikannya hendak pergi ke Jakarta. Keduanya pun menyusul ke stasiun kereta api. Setelah susah-payah mencari, akhirnya Prasetya menemukan Meirose. Tetapi, wanita itu bersikeras tetap pergi, karena tidak ingin mengganggu kebahagiaan “dongeng” keluarga Prasetya dan Arini. Ia pun sempat memeluk Arini yang datang kemudian dan menitipkan Akbar kepada pasangan itu. Sementara, ia sendiri kembali naik ke kereta api dan pergi ke Jakarta.

Kritik Film

Saya harus obyektif, walau film ini diangkat dari novel karya sahabat saya Asma Nadia. Dan agar obyektif, saya menonton film tanpa membaca novelnya lebih dulu. Sehingga, di bagian ini adalah “first impression film viewing critic” semata. Ditulis segera usai menyaksikan filmnya tanpa membaca data, tanpa membaca resensi orang lain, dan pastinya tanpa membaca novel asal adaptasinya.

entertainment merahputih comSecara umum, film yang digarap profesional pasti hasilnya tidak mengecewakan secara sinematografi. Saya sendiri tidak merasa perlu berkomentar banyak soal itu. Mungkin hanya soal selera saja. Karena menurut saya, ada scene yang seharusnya bagus kalau dibuat split tiga character view di satu screen. Itu adalah scene saat ketiga karakter utama yaitu Prasetya, Arini dan Meirose sama-sama shalat dan berdo’a. Cantik sekali kalau gambar ketiganya disandingkan, dan bukan ditayangkan silih-berganti.

Penggambaran latar belakang karakter utama di film ini agak kurang memadai, terutama bagi Arini dan Prasetya. Di awal film ada adegan kilas balik (flash back) masa lalu Prasetya, yang kemudian dikisahkan justru tengah tertidur di dalam mobil yang tengah berhenti. Dan adegan tadi adalah mimpi dari masa lalu Prasetya. That’s it. Cuma itu yang kita tahu soal Prasetya. Saat ia kebetulan bertemu Arini yang kemudian jadi istrinya, latar belakang Arini pun tak jelas. Saat ia berjalan di sebuah lokasi mirip hutan tapi sepertinya dimaksudkan sebagai bagian dari rumah keluarganya, saya menerka-nerka siapakah lelaki tua yang tiba-tiba muncul bersamanya. Baru beberapa menit kemudian diketahui kalau itu adalah ayahnya. Tokoh Arini yang digambarkan sabar dan keibuan, malah seperti kalah sabar dan keibuan dengan Meirose. Apalagi saat ia melabrak ke rumah Meirose untuk pertama kalinya. Dan memang adegan Arini merawat Nadia saat bayi tidak digambarkan, karena scene di awal film langsung melompat ke saat putrinya itu sudah balita dan berulang tahun.

Karakter Meirose malah tergambar cukup kuat. Bahkan lebih kuat daripada Arini dan Prasetya. Penonton dengan mudah dibuat bersimpati kepadanya, dan malah dikesankan Arini egois dan kurang pengertian. Padahal, di film lain bertema serupa, sebutlah seperti Berbagi Suami (2006), penonton dibuat bersimpati pada istri pertama.

Surga-Yang-Tak-Dirindukan 3Akting para pemain jelas kuat karena tiga karakter utama diperankan aktor dan aktris kawakan. Fedi Nuril yang melejit lewat film fenomenal Ayat-Ayat Cinta (2008) tampak pas memerankan Prasetya. Sayangnya, akting Raline Shah sebagai Meirose tampak menenggelamkan akting Laudya Chintya Bella sebagai Arini. Padahal Arini adalah karakter pemeran utama, sementara Meirose adalah pemeran pembantu utama. Untuk pemeran pembantu utama anak-anak, saya sangat memuji akting Sandrina Michelle sebagai Nadia. Ia tampak begitu luwes, wajar dan profesional. Begitu alami nyaris seperti tidak sedang berakting. Pujian juga harus dialamatkan pada artis senior Hj. R.A.Y. Sitoresmi Prabuningrat yang berperan sebagai Sulastri, ibunda Arini. Sementara Landung Simatupang sebagai Sutedjo -ayah Arini- tampil terlalu singkat walau cukup prima.

Di sisi lain, saya agak menyayangkan munculnya Zaskia Adya Mecca sebagai Sita sahabat Arini yang kurang dioptimalkan. Agak mubazir rasanya. Mungkin tidak perlu aktris sebesar dia untuk pemeran pembantu tambahan seperti itu. Juga pemberian porsi beberapa menit di beberapa scene untuk menjelaskan problema yang dihadapi dua orang sahabat Arini seperti tidak relevan. Membuang waktu, padahal daripada untuk menggambarkan cerita sampiran seperti itu, lebih baik dipakai untuk memperkuat jalinan cerita utama dan karakterisasi tokoh utama.

Penggambaran adegan ala sinetron yang serba kebetulan dan di beberapa bagian terasa terlalu diatur terlihat di beberapa scene. Contohnya saat adegan persemayaman ayah Arini –yang sepanjang film tidak diketahui siapa namanya, – yang wafat, para pelayat yang berpakaian seragam serba hitam dan cuma diam tercenung saat Prasetya yang bukan kebetulan berbaju putih masuk dan memeluk Arini serta ibu mertuanya, terasa sekali ‘setting-an’-nya.

150709106090715HLfilmSURGAdirindu-2Dari segi logika cerita, film ini cukup baik. Walau di beberapa bagian sosok “hero” dari Prasetya terkesan agak terlalu dipaksakan. Apalagi, ini film “reality based setting drama”, bukan “comical superhero”. Adegan Prasetya menyelamatkan Meirose agak kurang masuk akal, apalagi bagi orang yang menguasai teknik panjat dinding dan rappelling. Mustahil Pras bisa mengangkat tubuh Mei yang tinggi tanpa ada bantuan alat apa pun. Apalagi pinggangnya tidak dililiti tali pengaman yang terikat ke benda statik yang kuat. Seharusnya, malah tubuh Pras yang ikut terseret Meirose ke bawah dan keduanya terbanting ke tanah bersamaan. Dengan biaya film yang besar, mustinya meminta nasehat dari klub mahasiswa pencinta alam sebelum film dibuat bukanlah hal sulit. Apalagi jelas Prasetya digambarkan merupakan mahasiswa UGM. Atau, minimal mencermati film berlatar pendakian gunung seperti Vertical Limit (2000).

Ada adegan lain yang agak kurang masuk akal dari segi logika dunia nyata, yaitu ketiadaan karakter polisi yang muncul di film ini. Padahal, jelas sekali Meirose mengalami kecelakaan lalu-lintas dan Prasetya menolongnya dengan membawanya ke rumah sakit. Di dunia nyata, mustahil pihak rumah sakit menerima begitu saja korban kecelakaan lalu-lintas seperti itu. Mereka pasti memanggil pihak kepolisian. Dan bukannya jadi pahlawan, orang yang menolong seperti Prasetya tanpa ada saksi lain malah kerapkali dijadikan tersangka. Terus-terang, mulanya saya mengira itulah jalan ceritanya. Tapi ternyata tidak.

Kejanggalan lain adalah saat Arini menelepon berdasarkan bon yang ditemukan pembantunya di saku celana Prasetya. Ia menyebutkan dirinya berasal dari apotek, padahal, jelas sekali kalau bon itu justru berasal dari apotek. Masa’, apotek menelepon apotek? Kalau disebutkan itu resep sehingga Arini menelepon RS atau dokternya, jelas mustahil. Karena saat menebus obat itu resep pasti diserahkan kepada apotek. Lagipula jelas dalam kertas itu tergambar besaran nilai rupiahnya, jadi jelas itu bon apotek, bukan dari dokter atau RS.

Lagu tema film asli (Original Sound Track-OST) berjudul “Surga yang tak Dirindukan” yang dinyanyikan oleh Krisdayanti sebenarnya bagus. Dan terdengar beberapa kali di beberapa bagian film. Tetapi, entah kenapa saya merasa ada yang agak terlalu keras volume-nya hingga membuat penonton malah jadi sadar, “oh, ini cuma film…” sehingga tidak jadi menangis walau sempat terbawa emosi. Padahal, adegannya sedang mengharukan dan sempat terlarut. Dan, ini mungkin telinga saya yang salah, beberapa bar awal lagu ini mirip dengan lagu “Cinta Sejati”, OST film Ainun & Habibie. Mungkin dari alunan musik pengiringnya yang menggunakan piano. Bisa jadi, ini karena penciptanya sama-sama Melly Goeslaw-Anto Hoed dan pembuat filmnya sama-sama MD Entertainment.

Alurnya cepat, bahkan terlalu cepat di awal film, tapi lalu melambat hingga akhir dan nyaris tidak ada klimaks. Yang ada malah anti-klimaks. Setelah Arini bisa menerima kehadiran wanita lain sebagai istri keduanya dan mengajak Meirose beserta Akbar menginap di rumahnya, seharusnya film selesai di situ. Karena itulah cerita yang “they live happily ever after” dan entah mengapa saya sebagai lelaki menginginkannya. Tapi, Asma Nadia selaku penulis novel dan penulis skenario Alim Sudio plus sutradara Kuntz Agus rupanya berpikiran lain. Film masih dilanjutkan dengan adegan Meirose kabur dari rumah Prasetya-Arini meninggalkan Akbar.

057367400_1436338522-raline-adegan-film-surga-yang-tak-dirindukan-04Adegan pamungkas film sendiri patut dipertanyakan secara fiqh. Karena nafas “syi’ar dan dakwah” terasa cukup kental, maka seharusnya semua bagian tak luput dari itu. Meirose yang pergi begitu saja tanpa izin suami sahnya, bahkan tetap ngotot pergi walau sudah dicegah, tentu bukan tindakan muslimah yang bisa dibenarkan. Karena jangankan pergi keluar kota, keluar rumah saja harus seizin suami. Plus, tampaknya Meirose hendak ‘pergi selamanya’, padahal dia masih istri sah Prasetya dan pihak suami sama sekali tidak mengeluarkan talak. Jelas, ini menyalahi kaidah fiqh. Ditambah lagi judul film ini yang berasal dari ucapan Arini, “Tapi bukan itu surga yang aku rindukan!” jelas merupakan kampanye penentangan poligami yang dibolehkan dalam ajaran Islam (walau tidak dianjurkan).

Terakhir, dari beberapa kali saya cermati promosinya termasuk di Twitter, film ini disebut sebagai “film keluarga”. Well, I’m very sure definitely it’s not. Saat saya menonton di bioskop, tepat di samping saya ada tiga orang anak perempuan berjilbab usia SMP menonton tanpa didampingi orang dewasa. Dan Anda tahu apa yang saya dengar dari percakapan mereka usai film? Satu di antara mereka menanyakan kepada yang lain, “Eh, lu gimana kalau jadi istri kedua?” Dan saya pun nyaris ‘tepok jidat’, “Hadeuh!”

Catatan: Klik pada gambar poster film untuk melihat official trailer-nya.

 

 

Surga Yang Tak Dirindukan on July 15, 2015 rated 3.2 of 5

11 Responses so far.

  1. […] bahagia keluarga suaminya Prasetya dan istri pertamanya Arini memilih pergi (ulasan film baca di resensi-film.com). Dan dengan kalimat itulah ia meyakinkan Prasetya dan Arini untuk membiarkannya […]

  2. Angelina Karamoy says:

    Film ini memberi perspektif beda soal poligami dlm agama Islam. Sy tadinya mengira semua muslim setuju & mendukung.

  3. M. Shadiq Agus Salim says:

    Pak/Mas, boleh minta ulasan perbandingan dengan bukunya? Makasih…

  4. bagus adi says:

    Duh.. Maaf, saya kira ini jatuhnya bukan review deh.. Anda terlalu detail. Dan untuk akting Raline saya kurang setuju. Menurut saya Raline hanya tempelan saja di film ini. Sama seperti film2 Raline sebelumnya. Akting dia jg kurang total, apalagi waktu Mei Rose berdialog setengah indo setengah english. Sangat merusak telinga pas menontonnta. Laudya jelas sangat konsisten di film ini. Akting depresi, sedih, dan kecewanya sangat total. Bahkan bisa dibilang ini adalah akting terbaik dari Laudya. Fedi Nuril msh sama ketika dia berakting di ayat ayat cinta. So.. Sorry. I’m not agree with your review.satu lagi.. Tlg belajar lg untuk membuat review yang efektif dan baik. Wassalam..

    • Bhayu Mahendra says:

      Terima kasih komentarnya. Bagaimanapun resensi itu subyektif. Kalau Anda beda pendapat, silahkan saja. Lagipula film itu seperti seni, ada masalah selera bermain juga di sini… 🙂

  5. The Renk says:

    Saya setuju beberapa scene yang terkesan sinetron terutama saat acara dirumah bapaknya arini meninggal dan dialog englishnya mei di beberapa scene sangat mengusik, but overall saya acungi 2 jempol untuk film ini, ONE OF THE BEST INDONESIAN MOVIE
    simplenya kita kalau menonton sebuah film yang sudah kita nonton bukan karena alur ceritanya, tapi karena Karakter dan akting yang dimaenkan di film tersebut yang membuat kita ingin menontonnya kembali, LAUDYA CINTYA BELLA bener-bener luar biasa di film ini, FEDI NURIL bermain mature dan apik, RALINE SYAH juga sederhana dan smart aktingnya di film ini.. THIS IS A MUST WATCH…!!!

  6. Isniya says:

    Maaf sebelumnya. Waktu Arini telfon dan mengaku sebagai pegawai apotek, bukannya itu menelfon rumahnya Meirose ya? Dan yang mengangkat telfon itu si mboknya Meirose?

  7. siti fatimah says:

    artikelnya bagus dan saya juga suka novelnya

Leave a Reply