Resensi Film-Bhayu MH

Survivor

Year : 2015 Director : James McTeigue Running Time : 96 minutes Genre : , , , , , , ,
Movie review score
3/5

Jalan Cerita

Film dibuka dengan adegan pertempuran di provinsi Kandahar-Afghanistan, pada 18 Juli jam 5:03 pagi waktu setempat. Satu unit helikopter UH-60 Black Hawk memberikan bantuan tembakan dari udara kepada pasukan darat dari Kompi Charlie. Sialnya, sebuah missile dari RPG (Rocket Propeller Grenade) yang ditembakkan dari prajurit musuh yang memanggulnya menghantam. Helikopter pun jatuh.Pilot dan co-pilot yang selamat segera ditemukan pasukan musuh dan ditawan.

Pimpinan pasukan musuh memeriksa data dua tawanannya setelah merampas dog-tag mereka. Ia memutuskan membiarkan Johnny Talbot (Paddy Wallace) yang berkulit putih hidup, sementara temannya Ray (Parker Sawyers) yang berkulit hitam dibakar hidup-hidup.

Kisah lalu meloncat ke London, di atap Kedutaan Besar Amerika Serikat ada dua orang marinir penjaga yang mengawasi kedatangan para pegawai. Tim marinir ini adalah seorang sniper (Ben Starr) dan seorang range finder (Royce Pierreson). Satu per satu petugas bagian visa datang. Mereka adalah Alvin Murdock (Sean Teale), Robert Purvell (Rege-Jean Page), Joyce Su (Jing Lusi), Naomi Rosenbaum (Antonia Thomas), dan terakhir Katherine “Kate” Abbott (Milla Jovovich).

Sesampai di dalam kantor, atasan mereka Sam Parker (Dylan McDermott) meminta tim untuk rapat karena ada situasi darurat. Bersama mereka bergabung wanita berkursi roda yang menangani komputer dan administrasi, Sally (Frances de la Tour). Sam menjelaskan bahwa seorang ilmuwan Jerman bernama Nero Franks yang akan terbang dari Heathrow ke Chicago. Karena aparat keamanan curiga pada ahli gas dan petrokimia itu, mereka menembaknya hingga tewas di bandara. Sam mengingatkan bahwa selain ada upaya pemalsuan visa, kemungkinan teroris berupaya memperoleh visa resmi lewat Kedubes juga besar. Karena itu, ia memperingatkan agar ahli gas dan petrokimia diawasi secara khusus seraya memandatkannya pada Kate.

Beberapa saat kemudian, di bagian aplikasi visa, Naomi mendapati seorang pria bernama Dr. Emil Balan (Roger Rees) yang warga negara Rumania mengajukan visa masuk ke A.S. Karena tertulis keahliannya sebagai ilmuwan ahli gas dan petrokimia, ia pun melaporkan pada Kate. Karena heran atas alasan seorang dokter umum hendak masuk ke A.S. menghadiri konferensi dokter anak, plus tidak adanya surat rekomendasi dari Vickers Pharmaceuticals dimana Dr. Balan bekerja, maka Kate menunda pemberian visa. Bill Talbot (Robert Forster) mencoba mengingatkan Kate untuk tidak mempersulit, tetapi Kate bersikukuh menjalankan tugasnya.

Keesokan harinya, Kate malah mendatangi kantor Vickers Pharmaceuticals dan menemui direkturnya, Perry. Ia meminta jaminan keamanan terkait Balan. Sang direktur rupanya gusar dan menghubungi Menteri Dalam Negeri Inggris. Komunikasi berlanjut hingga Inspektur Paul Anderson (James D’Arcy) dari dinas rahasia Inggris mendatangi Kedutaan Besar Amerika Serikat. Sam dan Kate menghadapinya dan tetap bersikukuh pada prosedur. Hingga Duta Besar Amerika Serikat Maureen Crane (Angela Bassett) masuk ruangan dan meminta agar masalah dibereskan. Meski ditekan, Kate tetap pada kecurigaannya terhadap Balan dan tetap belum mengabulkan permohonan visanya masuk ke A.S.

Hari itu, Kate bekerja hingga larut memeriksa aplikasi visa yang masuk. Kata kunci (keyword) yang digunakan adalah “security processed scientist” atau “ilmuwan yang keamanannya sedang diproses”. Ia terkejut mendapati ada empat nama lain yang merupakan ahli gas dan petrokimia juga sedang mengajukan visa masuk ke A.S. Mereka adalah tiga orang pria dan seorang wanita dari Belgia, Nepal, Australia, dan Sri Lanka. Saat ia menelepon Naomi untuk menanyakan ilmuwan asal Sri Lanka bernama Fazli Sameer, temannya itu mengatakan masalahnya sudah diambil alih oleh Bill Talbot. Meski heran, tetapi Kate belum melanjutkan pekerjaannya karena ada pengingat (reminder) agar ia menghadiri pameran fotografi sahabatnya Lisa. Ia pun bergegas pergi, walau sampai di sana ternyata pameran sudah tutup, tepat saat Lisa hendak menutup pintu. Untunglah mereka masih bertemu dan Kate diajak masuk kembali ke dalam ruang pameran oleh Lisa.

Adegan berpindah ke seorang pria yang sedang merakit bom. Sosok misterius itu kemudian menyerahkan bom yang sudah selesai dirakit kepada seorang kurir. Kurir itu lantas menyerahkannya lagi kepada seorang staf juru masak restoran.

Hari berikutnya, saat pulang kantor, tim bagian aplikasi visa berencana merayakan ulang tahun Bill Talbot di bar bernama “Gastors”. Tapi semua orang malah lupa membeli kado untuk Bill. Akhirnya, Kate keluar dari restoran dan menuju seberang jalan dimana ada toko penjual hiasan kristal. Saat ia berada di toko itulah, bom meledak. Ternyata, bom yang dirakit tadi memang ditujukan untuk membunuh para petugas Kedubes A.S., walau harus memakan korban lainnya. Kate yang lolos karena berada di toko seberang jalan berusaha kembali dan memberikan pertolongan. Tetapi saat ia meminta tolong pada seorang pria, ternyata pria itu justru si perakit bom yang hendak menembaknya. Kate terkejut dan lari.

Sesuai protokol keamanan, Kate pun pergi ke “meeting point” di Kensington Garden. Di sana, ia bertemu Bill. Tak diduganya, Bill malah berusaha menembaknya dengan pistol Glock 37. Tembakan pertama meleset dan Kate berupaya mencegah Bill. Tetapi dalam pergumulan, pistol meletus lagi dan malah menembus perut Bill. Celakanya, pistol kini di tangan Kate dan Bill yang terluka keluar ke tengah kerumunan orang. Banyak orang di taman mengabadikan kejadian Bill yang terluka dan kemudian tewas dengan Kate memegang pistol di tangannya. Karena ini era social media, segera saja video itu menjadi viral dan menyebar.

Si pria misterius datang, membuat Kate panik. Saat ia hendak menembakkan pistol, ternyata pelurunya sudah kosong. Kate pun melarikan diri, sementara si pria misterius merampas ID-card pegawai Kedubes milik Bill. Dengan tenang ia malah meminta agar memanggil polisi. Dan ketika seorang pengunjung sedang menelepon meminta bantuan di lokasi mereka, Lancaster gate di bagian utara Kensington Garden, Sam tiba.

Karena yakin Kate tidak bersalah, Sam pun meminta Sally bekerjasama melacak keberadaan Kate melalui chip yang ada di ID-card pegawai Kedubes. Duta Besar yang percaya pada laporan polisi Inggris meminta agar Kate dilacak dan ditangkap. Tetapi Sam dan Sally berupaya terus menutupi jejak Kate. Sally melacak Kate berada di Lambs Market di Curzon street, sehingga Sam pun menuju ke sana. Tetapi ia terlambat tiba karena Kate sudah keburu melarikan diri.

Kate meminjam telepon seorang kasir dan menelepon meminta bantuan Lisa. Mereka berjanji bertemu di St. Pancras station, sebelah the Christmas market. Sally melacak ID-card Kate dan tahu keberadaannya menuju ke sana. Sam pun ikut memburu. Tetapi, si pria misterius melacak juga dan ikut datang. Polisi dan dinas rahasia pun ikut ke sana. Tetapi, si pria misterius ini masuk ke radio komunikasi dan meminta para agen untuk mundur. Sebenarnya ia bermaksud agar ia bisa aman membunuh Kate. Tetapi Kate malah jadi aman bertemu Lisa dan berhasil meloloskan diri.

Kate lari melalui jalur rel kereta bawah tanah. Dan ia kemudian menuju rumah Bill yang dicurigainya. Sam yang masih mendapatkan pelacakan dari Sally mengikutinya ke sana. Dan di sanalah mereka bertemu. Saat itulah Kate pun mengatakan kalau ada pria yang menguntit dan mencoba membunuhnya. Bahkan, Bill pun mencoba membunuhnya. Sam lantas mengungkapkan bahwa pria misterius itu adalah salah satu pembunuh bayaran paling dicari di dunia. Kode namanya “The Watchmaker” (Pierce Brosnan), dengan namanya dikenal sebagai Nash. Tetapi nama aslinya dan wajahnya tidak diketahui karena telah melakukan operasi plastik.

Di rumah Bill, mereka menemukan sebuah CD berisi rekaman video penyanderaan Johny. Saat itulah mereka baru tahu motif Bill berkhianat, karena anaknya Johny disandera kelompok teroris. Ketika hendak pergi, Sam sadar dua anggota keamanan Kedubes yang datang bersamanya tewas. Saat hendak melarikan diri, The Watchmaker datang. Sam terjatuh terkena ledakan bom di pintu, sedangkan Kate berhasil lolos.

The Watchmaker ternyata disewa sekelompok teroris. Dr. Balan membuat komposisi bahan peledak kimia dari campuran hydrogen, methane, dan fluoride. Mereka mengujicobakannya pad sebuah bangunan terbengkalai bernama Tower Hamlets. Uji coba itu sukses dan bahan kimia dalam bola raksasa itu menghancurkan gedung. Pemerintah mengira itu kecelakaan akibat ledakan gas. Padahal, The Watchmaker yang menembak dengan senapan sniper dari jarak satu kilometer.

Kate mencoba menerobos kembali ke Kedubes dan melacak nama-nama yang dicurigainya. Ia terkejut visa untuk Balan sudah disetujui dan malah sudah menuju ke A.S. Ia mencoba memberitahukan Sally agar mencegahnya. Tetapi Dubes menolaknya dan menganggap itu justru upaya pengalihan perhatian belaka dari Kate. Dengan berbekal paspor palsu atas nama Amy Harrison, Kate memutuskan pergi sendiri ke A.S. untuk melacak Balan dan The Watchmaker.

Sementara, The Watchmaker menemui pimpinan kelompok teroris ((Bashar Rahal) yang mendanai aksi mereka. Balan memang dendam kepada A.S. karena beberapa tahun sebelumnya istrinya yang hendak berobat tidak diberikan visa masuk, sehingga meninggal dunia. Tetapi, The Watchmaker menduga ada motif lain dari kelompok teroris. Ia tahu kalau terjadi kejadian besar seperti 9/11, pasar saham akan jatuh. Dan pihak yang mengambil langkah berlawanan dengan pasar justru akan untung besar. Karena itu, ia memutuskan untuk meminta bagian 50 % dari 100 milyar dollar A.S.

Setibanya di A.S., Kate mengontak seorang bekas tentara bayaran untuk menjadi supirnya malam itu. Celakanya, malam itu adalah malam tahun baru sehingga jalanan penuh. Saat menyaksikan televisi di dalam mobil, barulah Kate sadar bahwa Balan akan menggunakan momentum malam itu untuk melancarkan aksi terorisme. Dengan menggunakan “bola tahun baru” yang biasa diluncurkan turun dari atap sebuah gedung di Times Square, bola itu akan diisi gas ramuan petrokimia. Dan The Watchmaker akan menembaknya agar meledak. Jelas efeknya akan parah karena diduga ada lebih dari satu juta orang di jalanan New York city tepat di depan Times Square saat itu. Sementara Balan setelah berhasil memompakan ramuan gas dan petrokimia ke dalam bola, segera bergabung dengan The Watchmaker.

Dengan heroik Kate berupaya mencegah aksi itu.. Ia memasuki gedung yang berada tepat segaris lurus dengan gedung dimana bola akan diluncurkan. Tanpa diduiga, The Watchmaker membunuh Balan sebelum aksinya. Kate pun naik ke atap, bersenjatakan pistol berupaya mencegah The Watchmaker. Meski sempat kalah dan pistolnya terlempar, Kate berhasil membuat The Watchmaker terjatuh dari atap gedung. Ketika polisi dan FBI tiba, Kate sempat ditangkap. Tapi kemudian dibebaskan setelah diketahui bahwa ia justru mencegah aksi terorisme. Sam menelepon dari London, memberi selamat dan mengatakan ia selalu percaya pada Kate.

Kritik Film

survivor vertikalFilm ini dibintangi dua orang figur ternama, Pierce Brosnan yang pernah memerankan James Bond 007 dan Milla Jovovich yang membintangi serial franchise film Resident Evil. Keduanya jelas sangat terbiasa dengan peran seperti ini. Sayangnya, jalan cerita yang lemah membuat keduanya seperti amatiran.

Apa kelemahannya?

Logika. Itu yang utama.

Terlalu banyak kebetulan dan ketidakjelasan di film ini. Kaitan antar bagian juga kurang kuat. OK. Saya coba uraikan.

Di awal film, saya agak bingung dengan kaitan antara sniper team dengan perang di Afghanistan. Ternyata, memang nggak ada hubungannya. Mereka cuma selintas lewat saja. Kebingungan saya terus berjalan hingga ke bagian tengah film, saat kaitan antara adegan awal pertempuran di Afghanistan terjelaskan dengan ditemukannya VCD rekaman video penyanderaan Johny di rumah Bill, ayahnya. Karena adegan pertempuran di awal yang seru mendadak berubah jadi jalinan cerita thriller yang mengerutkan kening.

Kejanggalan lain adalah begitu mudahnya The Watchmaker yang katanya misterius muncul di kerumunan orang di taman saat Bill tertembak oleh Kate. Padahal, banyak sekali yang memvideokan kejadian itu. Sang pembunuh bayaran cuma menutupi identitasnya dengan memakai topi saja. Dan itu konyol sekali. Dia juga bisa dengan santai melenggang di depan polisi yang tiba di depan rumah Bill tanpa ditanyai apa pun.

Posisi kuat kelompok teroris juga agak aneh. Bagaimana mereka sampai bisa mengontak Menteri Dalam Negeri Inggris untuk menekan Duta Besar A.S. di Inggris. Logikanya, Direktur Vickers Pharmaceuticals pastilah terlibat dalam kelompok itu. Tapi hingga akhir film, kecuali The Watchmaker yang tewas, tak ada penjelasan bagaimana nasib kelompok teroris lainnya.

Sebagai seorang penggemar kemiliteran, saya juga menyoroti penggunaan senapan sniper dan teknik penembakan jitu itu sendiri. Detailnya tampak diabaikan oleh sang sutradara. Dua senapan yang digunakan dalam dua kali scene penembakan (percobaan di Tower Hamlets dan di Times Square), keduanya tampak aneh. Pertama, kalibernya jelas kecil. Padahal, untuk menembak dari jarak sejauh itu (disebutkan 1 kilometer), setidaknya harus caliber .50. Kedua, sama sekali tidak digunakan bipod sebagai penyeimbang. Malah, di Times Square cuma dipakai bantal kecil sebagai penyangga. Kejanggalan ini aneh, karena di awal film jelas ditunjukkan dua orang marinir yang berperan sebagai sniper dan range finder, satu komposisi standar bagi sniper team.

Film ini realis, sehingga seharusnya detail seperti itu diperhatikan. Contoh terbaik jelas di film American Sniper (2014) yang diangkat dari kisah nyata. Atau kalau mau surealis, tentu seperti Wanted (2008). Maka, dengan begitu detail senapan yang “aneh” tidak lagi menjadi masalah.

Mengesampingkan semua kelemahan itu, film ini masih masuk kategori “lumayan” untuk ditonton. Bagaimana pun, pada akhirnya “jam terbang” Pierce Brosnan dan Milla Jovovich jua yang menyelamatkan film ini dari kehancuran total.

 

Catatan: klik pada gambar poster di kiri atas untuk melihat trailer-nya.

One Response so far.

Leave a Reply