Resensi Film-Bhayu MH

Tak3n

Year : 2015 Director : Olivier Megaton Running Time : 109 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
2/5

Jalan Cerita

Film dibuka dengan adegan Bryan Mills yang sedang mengendarai mobilnya. Ia hendak mengunjungi putri tunggalnya Kim. Ia bermaksud mengajari Kim menyetir, karena putrinya itu sudah dua kali gagal ujian untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi. Tetapi sayangnya, saat sampai di rumah mantan istrinya Lenore yang dipanggilnya Lenny, ternyata Kim tidak di rumah. Dengan kemampuannya sebagai mantan agen lapangan dinas rahasia (meski tidak disebutkan nama agensinya, penonton bisa menduga itu adalah C.I.A. karena kemampuannya beroperasi hingga ke luar negeri), Bryan bisa mengetahui letak rumah pacar Kim. Saat Bryan mengetuk pintu, dengan bingung Jimmy pacar Kim yang memang belum pernah bertemu keluar. Perkenalan mereka dimulai dengan canggung. Dan Kim malah akhirnya gusar karena merasa ayahnya mematai-matainya, karena bahkan ibunya yang tinggal bersamanya tidak tahu tempat tinggal Jimmy. Dalam perjalanan pulang, ia pun meminta sang ayah agar tidak melakukan hal itu lagi. Dengan enggan sang ayah berjanji, seraya tetap mengingatkan Kim agar berhati-hati.

Karena kebetulan sedang berada di kota yang sama –karena pekerjaan Bryan sebagai agen keamanan swasta mengharuskannya sering bepergian-, Bryan mengajak Lenore makan malam. Meski Lenore menolak, tetapi ia kemudian muncul di apartemen Bryan. Lenore pun “curhat” masalah pernikahannya dengan suaminya saat itu, Stuart St. John. Lenore bahkan mengakui, saat berhubungan badan ia justru sering membayangkan Bryan. Dengan bijak, Bryan menyarankan agar Lenore menyelesaikan masalahnya dengan suaminya. Barulah setelah itu mereka bisa membicarakan kembali hubungan mereka.

Tanpa diduga, Stuart lantas mengunjungi Bryan di apartemennya. Ia dengan agak kasar meminta agar Bryan menjauhi istrinya. Meski Bryan mengatakan itu karena mereka memiliki Kim sebagai putri tunggal yang harus diberikan perhatian, tetapi Stuart bersikeras. Akhirnya, demi menjaga hubungan baik, meski enggan Bryan setuju untuk tidak sering menghubungi mantan istrinya.

Hari berikutnya, Bryan menerima SMS dari Lenore yang meminta bertemu di saat sarapan. Bryan setuju, dan sempat membeli roti bagel hangat seperti permintaan Lenore. Tetapi sesampainya kembali di apartemennya, Bryan mendapati tubuh istrinya sudah menjadi mayat di atas tempat tidur. Polisi dari LAPD (Los Angeles Police Department) segera tiba di lokasi. Karena mereka mendapat panggilan darurat ke nomor panggilan darurat terpusat 911. Setiba di TKP (Tempat Kejadian Perkara), polisi mencoba menahan Bryan. Sadar dirinya dijebak, Bryan pun memilih melarikan diri. Inspektur polisi LAPD Frank Dotzler yang memimpin penyidikan memerintahkan perburuan Bryan sebagai buronan. Tetapi di saat bersamaan, ia mendapati sejumlah kejanggalan di TKP.

 

Bryan terpaksa bersembunyi dan mengundurkan diri ke sebuah “rumah aman” yang sudah dipersiapkan. Ia menyebut “rumah aman” itu dengan nama “lubang kelinci”. Di sana, ia memiliki persenjataan dan perlengkapan pengintai elektronik. Ia melacak kembali jejak perjalanan Lenore sebelum meninggal menggunakan pelacak GPS di HP. Didapatilah Lenore terakhir mampir ke sebuah toko serba ada yang merupakan bagiana dari sebuah stasiun pengisian bahan bakar terpencil. Maka, Bryan pun menuju ke lokasi.

Di sana, ia menggunakan lencana LAPD untuk meminta petugas menunjukkan rekaman kamera CCTV ( Close Circuit Tele Vision). Ia berhasil mendapatkan petunjuk rekaman saat Lenore diculik ke dalam sebuah van. Di tangan kanan sang penculik ada tato khusus yang merupakan lambang anggota geng. Ketika dua detektif LAPD asli tiba, mereka menahannya dan Bryan sengaja tidak melawan. Ia ingin polisi melihat rekaman CCTV tersebut.

Inspektur Frank Dotzler yang menelepon dua polisi penangkap Bryan memperingatkan agar berhati-hati, namun dianggap remeh. Bryan pun kemudian dengan keahliannya berhasil meloloskan diri dan merampas mobil patroli polisi. Ia pun mengunduh data rekaman telepon dari basis data penyelidikan LAPD yang ada di komputer mobil.

Ia meminta bantuan temannya sesama mantan agen rahasia untuk menghubungi Kim saat pemakaman Lenore. Putrinya itu diminta agar menjalankan aktivitas keseharian seperti biasa. Salah satunya adalah dengan kebiasaannya meminum yoghurt. Kali itu, di gelasnya tulisan “Drink Me Now” (minum saya sekarang). Rupanya, minuman itu sudah dicampuri obat oleh ayahnya. Efeknya, di kelas Kim merasa pusing dan ingin muntah, sehingga ia pun pergi ke kamar mandi. Di sana, ia ternyata sudah ditunggu oleh ayahnya. Ia diberikan obat penawar untuk mengatasi pusing akibat meminum yoghurt sebelumnya. Bryan juga menemukan perangkat pemancar di jaket Kim, yang dipasang oleh Inspektur Frank Dotzler.

Bryan meminta putrinya tenang karena ia sedang mencari pembunuh sebenarnya. Saat itulah putrinya mengungkapkan dirinya tengah hamil. Juga memberikan informasi ayah tirinya Stuart mendadak terlihat panik dan menyewa pengawal, satu hal yang belum pernah dilakukannya sebelumnya. LAPD yang segera tiba karena menduga Bryan akan menemui Kim mendapati hanya ada Kim sendirian. Kim kemudian dibawa untuk diinterogasi, tetapi karena ia percaya pada ayahnya, dengan tenang ia melindunginya. Karena tidak ada alasan untuk menahannya, Kim dilepaskan.

Bryan menguntit mobil Stuart tetapi diserang oleh mobil SUV lain hingga terdorong ke bibir jurang. Ia berhasil lolos dari maut, membajak kendaraan dan mengikuti para penyerangnya ke sebuah toko minuman keras di tepi jalan. Ia lantas membalas dendam dengan membunuh mereka.

Stuart berhasil ditangkap oleh Bryan. Saat diinterogasi, ia mengakui bahwa tengah bermasalah dengan mafia asal Rusia. Hal itu disebabkan kegagalannya membayar hutang. Celakanya, bekas rekanan bisnisnya itu selain mafia juga bekas anggota pasukan khusus Rusia, Spetsnaz. Namanya Oleg Malankov. Ia mengatakan mengungkapkan identitas Bryan sebagai mantan agen rahasia CIA karena cemburu, karena Malankov dikatakannya dendam kepadanya.

Dengan bantuan dari mantan rekan-rekannya di CIA, bersama Stuart ia memasuki griya tawang (penthouse) Malankov yang dijaga ketat. Stuart tampaknya bekerjasama karena ketakutan, tetapi sebenarnya ia menyimpan rencana lain.Setelah berhasil masuk dan membunuh para penjaga dalalm baku tembak dan perkelahian, Malankov justru mengungkapkan bahwa Stuart telah mengerjai mereka berdua.

Ternyata, Stuart berharap dengan membunuh Lenore dan menjebak seolah Bryan sebagai pembunuhnya, ia bisa mendapatkan uang pertanggungan asuransi yang cukup besar untuk membayar hutang. Uang sebesar US$ 12 juta itu ternyata malah hendak dikuasai sendiri oleh Stuart, bukan dibayarkan kepada Malankov. Ketika Malankov gagal membunuh Mills, Stuart justru sebaliknya menggunakan Bryan untuk membunuh Malankov dan anak buahnya.

Di saat Bryan tengah bersama Malankov, Stuart merebut pistol yang tergeletak di meja di dalam van pengamatan, membunuh rekan Bryan, Sam. Ia pun menculik Kim dan bermaksud kabur dengan uang yang sudah diterimanya.

Polisi tiba di apartemen Malankov, dan mendapati Sam sudah tewas. Mereka pun memburu Bryan yang juga tengah memburu Stuart. Ia membawa mobil sport Porsche milik Malankov dan memasuki bandara. Dengan nekat, ia menabrakkan mobil mahal itu ke jet pribadi yang dipiloti Stuart. Dalam perkelahian setelahnya, dengan mudah Bryan mengalahkan Stuart. Kim pun berhasil diselamatkan. Ketika hendak membunuh Stuart sebagai balas dendam atas kematian Lenore, putrinya Kim justru memintanya agar tidak melakukannya.

Dengan dingin, Bryan mengatakan kalau ia tahu dengan pengacara bagus Stuart bisa bebas dalam beberapa tahun saja. Tetapi ia mengatakan, akan menunggu Stuart di luar penjara untuk menuntaskan balas dendamnya. LAPD kemudian tiba dan menangkap Stuart. Tetapi Bryan pun dibawa ke kantor polisi. Di dalam kantor Inspektur Dotzler, Ia mengungkapkan sejak semula ragu kalau Bryan yang membunuh mantan istrinya. Penyebabnya sederhana, ia mendapati masih ada sekantong bagel panas di atas meja yang bahkan kemasannya belum dibuka. “Pembunuh macam apa yang menyempatkan diri membeli bagel panas dulu sebelum membunuh?” Bryan dilepaskan tetapi diminta untuk tidak dulu pergi keluar kota. Bryan pun setuju dan pergi dari kantor polisi.

Sebagai epilog, Bryan duduk di tepi pantai bersama Kim yang didampingi Jimmy, pacarnya. Saat itulah ia diminta Jimmy mengungkapkan niat mereka. Kim mengatakan, bila bayi mereka yang lahir nanti perempuan, akan dinamai Lenore seperti nama mendiang ibunya. Dan Bryan pun tersenyum seraya berkata, “Yah, dia pasti akan sangat menyukainya.”

 

Kritik Film

Taken3_Quad-poster

Saya kecewa. Film ini menghancurkan ekspektasi saya untuk mengawali tahun 2015 dengan menonton film berkualitas. Apalagi, seperti Anda bisa baca sendiri, saya sangat memuji dua sekuel film pertama dari serial franchise film ini, yaitu Taken (2009) dan Taken 2 (2012).

Banyak sekali yang membuat saya merasa “ngganjel”. Terutama karena adegan pertarungannya tidak seseru di dua sekuel sebelumnya. Meski Liam Neeson tergolong tua untuk kategori aktor laga, tetapi justru di situlah daya tariknya. Dengan tubuh tidak seberotot Arnold Schwarzenegger atau Steven Seagal, penampilannya malah nampak wajar.

Hal paling mengganjal adalah kesinambungan yang terputus. Karakter Stuart yang sudah muncul di film pertama Taken (2009) di film ini berganti pemeran. Dari semula Xander Berkeley menjadi Dougray Scott. Masalahnya, penampilan fisik dan latar-belakang keduanya berbeda jauh sekali. Stuart di film pertama tampak ramah, berkuasa, aristokrat dan bertubuh tinggi agak gemuk, khas orang kaya asal Amerika. Sementara Stuart di film ini lebih seperti mafia Russia sendiri, rahang kaku di wajah keras, tubuh lebih kurus atletis, dan tidak tampak kaya. Meski sudah ditambahi nama St. John (yang hanya ada di credit title, bukan disebutkan di film), tetap tidak menolong. Karena tampaknya jelas penulis naskah dan sutradara sebenarnya bermaksud membangun kontinuitas, tapi gagal.

Tapi kegagalan lebih parah justru di posisi karakter pacar Kim. Di film sebelumnya, Taken 2 (2012), pemerannya adalah Luke Grimes. Kini, karakter itu diperankan Jonny Weston. Sebenarnya, secara penampilan penonton tidak akan terlalu ingat perbedaannya. Karena keduanya selain cuma muncul selintas di kedua film dan gaya remajanya mirip. Tetapi justru nama yang beda, meski mirip malah menimbulkan tanda tanya. Apakah Jimmy di film ini sama dengan Jamie di film sebelumnya? Kontinuitas jelas putus parah karena di akhir sekuel film sebelumnya jelas sekali ditampakkan adegan dan percakapan bahwa Stuart merestui hubungan putrinya dengan Jamie. Tetapi di awal sekuel film ini, justru ditampakkan bahwa Jimmy tampak terkejut saat Bryan mengunjungi rumahnya untuk menjemput Kim. Mereka juga jelas belum pernah bertemu sebelumnya. Padahal dikesankan itulah pacar pertama Kim hingga membuat ayahnya setengah tak rela. Aneh, karena di sekuel film sebelumnya Kim sudah punya pacar yang pada akhir film direstui ayahnya.

Konon, Liam Neeson sebagai pemeran utama pria sendiri sempat tidak yakin akan ada sekuel ketiga dari Taken. Hal ini justru diutarakannya tanggal 28 September 2012, menjelang pemutaran perdana Taken 2 (2012) di Amerika Serikat pada 5 Oktober 2012. Tetapi keadaan berubah karena 20th Century Fox yang bertindak sebagai distributor film ini menghendaki adanya sekuel ketiga. Dan konon Liam Neeson setuju untuk kembali berperan sebagai Bryan Mills karena bayarannya yang mahal.

Bagaimanapun, film yang sebenarnya produksi 2014 ini telah dibuat dan diluncurkan. Sebenarnya peluncuran perdananya di Berlin-Jerman pada 16 September 2014. Tetapi karena ini film Hollywood, ia dimasukkan dalam penjadwalan film 2015 karena tayang perdananya di Amerika Serikat baru pada 9 Januari 2015. Sementara di sejumlah negara lain jadwalnya berbeda. Hong Kong dan Korea Selatan lebih awal pada 8 Januari 2015, Inggris dan Spanyol pada 16 Januari 2015, Prancis 21 Januari 2015, dan di Italia pada 12 Februari 2015. Trailer-nya sendiri seudah diedarkan secara internasional sejak 30 September 2014.

Tetapi, berlawanan dengan reaksi kritikus –termasuk saya- yang menanggapinya secara negatif, film ini berhasil meraup pendapatan besar. Dengan pemasukan sekitar US$ 325,7 juta dari biaya produksi sekitar US$ 48 juta, berarti sekitar 6 kalinya. Rupanya, serupa seperti saya, para penonton di seluruh dunia berharap keasyikan dan keseruan seperti di dua sekuel film sebelumnya. Tetapi tampaknya kali ini produser dan pihak-pihak pembuat film sepakat dengan penonton, bahwa sudah saatnya mengakhiri serial franchise film ini di sekuel film ketiga saja. Tetapi terus-terang, saya menangkap kemungkinan dibuatnya sekuel lanjutan. Hal ini karena Stuart sebagai “fierce enemy” masih hidup. Dan ada ancaman Bryan yang dilontarkan di bandara, bahwa ia akan memburu Stuart selepasnya dari penjara. Jadi, kita tunggu saja…

Leave a Reply