Resensi Film-Bhayu MH

The 5th Wave

Year : 2016 Director : J Blakeson Running Time : 112 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
4/5

Film ini tayang di Indonesia lebih awal daripada di Amerika Serikat yang baru rilis pada 22 Januari 2016. Dan ini menunjukkan betapa besarnya pangsa pasar di negara ini, sehingga kerapkali Hollywood mendahulukan penayangan di Indonesia daripada di negara sendiri.

Anyway, film ini adalah salah satu movie genre favorit saya: post-apocalyptic atau pasca kiamat. Tentu saja, kiamat dalam versi manusia yang disebabkan karena bencana alam atau perang, bukan kiamat dari Tuhan versi agama. Di awal film, penonton sudah akan tahu kondisi ini karena karakter utama perempuan yang kemudian diketahui bernama Cassiopeia Marie “Cassie” Sullivan (Chloë Grace Moretz) masuk ke sebuah toko yang sudah ditinggalkan dalam kondisi berantakan. Apalagi, ia membawa senapan serbu AR-15 yang siap ditembakkan. Dan menjadi makin jelas saat ada suara di ruang belakang yang memanggil meminta tolong.

Kisah di film kemudian kilas-balik (flash back) dengan narasi dari pikiran Cassie. Dari situ penonton tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sebelum kejadian pembuka di awal film itu, sang karakter Cassie sudah mengalami banyak kejadian. Sebagai siswa SMA berusia 16 tahun, Cassie sebenarnya orang biasa. Di suatu hari saat ia sedang berlatih sepakbola -di A.S. sepakbola awalnya justru lebih populer sebagai olahraga bagi perempuan- terjadi kehebohan. Melalui aneka gawai yang mereka bawa, terbetik kabar adanya kapal luar angkasa asing di atas negara mereka. Dan hal itu dilengkapi foto-foto yang kemudian segera disusul dengan berita di televisi.

Sesampainya di rumah, Cassie menonton berita itu bersama ayahnya Oliver Sullivan (Ron Livingston), ibunya Lisa Sullivan (Maggie Siff) dan adiknya Sammy Sullivan (Zackary Arthur). Dan ternyata, pesawat alien itu sudah berada di atas kota mereka, Ohio. Presiden A.S. membolehkan dibukanya komunikasi dengan pesawat itu, walau mereka tak merespon. Pemerintah menjuluki alien tak dikenal itu sebagai “The Others” (liyan atau yang lain).

Dan ternyata itu baru awalnya. Karena makhluk asing dari luar angkasa itu ternyata berniat ekspansif dan destruktif, hendak menyerang Bumi dengan tujuan untuk menguasainya. Dan mereka tidak membutuhkan spesies umat manusia yang telah menghuninya. Oleh karena itu, mereka mengirimkan serangan dalam lima gelombang besar berikut:

  1. Gelombang 1: Elektro Magnetic Pulse broadcasting. Pesawat itu menyiarkan gelombang elektromagnetik yang mematikan segala bentuk gelombang elektromagnetik. Ini mematikan seluruh mesin di Bumi, terutama yang digerakkan oleh listrik dan menggunakan magnet. Kendaraan termasuk pesawat tak bisa berfungsi sehingga jatuh, dan Cassie melihat itu saat masih berada di sekolah.
  2. Gelombang 2: Menggunakan gelombang gravitasi tingkat tinggi, ditimbulkanlah tsunami besar. Ini menyapu seluruh kota yang berada dekat air. Tidak hanya laut, tapi juga danau dan kolam. Kita tahu, pasang naik dan surut terjadi karena gravitasi Bulan terhadap Bumi. Ini terutama karena “The Others” tahu fakta bahwa sekitar 40 persen populasi manusia tinggal dalam jarak 60 mil atau 97 km dari pantai.  Gelombang tsunami di pantai barat dan timur A.S. digambarkan setinggi tiga kali tinggi menara Empire State Building.
  3. Gelombang 3: Wabah penyakit. Ibu Cassie yang dokter pernah mengatakan virus flu burung adalah salah satu yang penyebab penyakit paling mematikan. Dan “The Others” menggunakan virus itu yang dipadu dengan Ebola untuk memusnahkan 97 % populasi manusia yang tersisa. Sebagai “agen parasit penyebar penyakit” digunakan burung yang populasinya lima kali populasi manusia. Sahabat Cassie bernama Lizbeth (Gabriela Lopez) dan ibunya akhirnya meninggal karena virus ini.
  4. Gelombang 4: Menyusup ke tubuh manusia. “The Others” menyusupi pikiran manusia dan menguasai tubuhnya. Dengan begitu, manusia kehilangan kemanusiaanya. Mereka saling membunuh sekedar demi bertahan hidup. Kriminalitas meruyak termasuk penjarahan. Kecurigaan antar manusia makin besar karena sulit mendeteksi yang mana alien. Mereka bahkan merasuki tentara dan menghidupkan kembali sejumlah mesin termasuk mobil dan pesawat.
  5. Gelombang 5: Perang terakhir untuk memusnahkan manusia yang tersisa. Pasukan tentara yang telah dirasuki “The Others” merekrut anak-anak dan membunuhi orang dewasa. Mereka mensimulasi kondisi seolah orang-orang yang masih tersisa dirasuki “The Others” yang menempel di otak masing-masing. Tujuannya adalah adu domba antara sesama manusia agar saling membunuh.

Dan sebenarnya, di film ini, gelombang kelima inilah yang jadi tema. Karena hanya sedikit manusia yang tersisa, yang masih hidup harus bertahan sebisanya. Cassie pun mengungsi pergi dari rumahnya bersama ayah dan adiknya. Tetapi di kamp pengungsian, dalam gelombang 4 ayahnya tewas. Dan celakanya, adiknya dibawa pergi dengan bus ke kamp militer oleh tentara. Ia sendiri tertinggal bus karena mengambilkan boneka beruang Teddy milik Sam yang tertinggal. Karena sebelumnya sudah diberi pistol Colt .45 oleh ayahnya, Cassie pun sempat mengambil senapan serbu AR-15 milik tentara yang tewas. Ia lantas menyusul adiknya karena selain ia satu-satunya keluarga yang tersisa, Cassie juga berjanji akan menjaga Sam.

Di perjalanan, Cassie ditembak oleh penembak jitu (sniper) yang disusupi oleh “The Others”. Ia pun pingsan, dan ketika siuman berada di ranjang bersih di sebuah rumah. Ternyata, ia diselamatkan seorang pria bernama Evan Walker (Alex Roe). Mereka pun kemudian berjuang untuk mencapai kamp militer tempat Sam berada. Kebersamaan itu pun membuat Cassie jatuh cinta kepada Evan walau semula sempat memusuhi. Dan hal itu membuatnya bimbang karena sewaktu SMA ia sempat jatuh hati pada bintang sekolah yang merupakan kapten football bernama Ben Parish (Nick Robinson).

Sayangnya, kemudian Evan mengakui ia justru merupakan “sleepers agent” (agen non-aktif) dari “The Others” yang sudah berada jauh lebih awal sebelum pesawat luar angkasa itu datang. Hal itu membuat Cassie marah dan memutuskan pergi sendiri ke kamp militer. Di sana, Sam ditempatkan dalam satu grup yang dikomandani Ben. Dan di grup itu juga ada wanita tomboy yang jago tembak, mantan komandan grup sebelumnya yang dipecat karena tidak disiplin, bernama Ringer (Maika Monroe). Mereka kemudian diperintahkan oleh Kolonel Vosch (Liev Schreiber) untuk maju berperang. Mereka dilengkapi helm khusus yang dilengkapi pemindai untuk mengenali “The Others” yang menyusupi manusia. Tetapi, di saat itulah mereka disadarkan bahwa justru mereka sedang diadu-domba untuk membunuh sesama manusia. Dan mereka pun sadar justru tentaralah terutama Vosch yang disusupi “The Others”.

Sementara itu Cassie berhasil masuk ke dalam kamp dan membunuh Sersan Reznik (Maria Bello). Di sana ia bertemu Ben, yang akhirnya sadar kalau Sam adalah adik Cassie. Dan ia mengaku kalau menyembunyikan Sam di kamar barak kamp militer agar tidak ikut berperang. Mereka berdua pun kemudian bertemu Evan yang justru hendak meledakkan kamp itu. Mereka berpisah dengan Evan meneruskan misinya, sementara Cassie dan Ben meneruskan pencarian Sam. Ketika sudah berhasil, tim Ben yang ditinggalkan di kota kembali ke kamp untuk menjemput dengan Humvee. Tim itu pun kemudian bertahan hidup bersama-sama dan sekuel “we fight back” pun dilafalkan oleh Cassie di akhir film.

Oh ya, film ini berasal dari novel best-seller berjudul sama, ditulis oleh Rick Yancey. Dirilis pertama kali tahun 2013 dan merupakan bagian pertama dari trilogi. Karena itu, dipastikan film ini akan dibuat sekuelnya hingga tiga babak mengikuti novelnya. Dan beberapa data untuk menulis resensi ini saya dapatkan justru dari novelnya karena lebih lengkap.

Sayangnya, ada beberapa kelemahan logika dasar, terutama dari “survival technique”. Contohnya, saat ayah Cassie memperagakan cara memakai pistol yang hanya sepintas. Plus, Cassie yang perempuan berusia 16 tahun terlihat mudah saja mengoperasikan senjata termasuk senapan serbu. Dan ia terlihat begitu mahir menggunakannya. Padahal, pria dewasa saja perlu latihan. Dan Cassie pun saat mengambil senapan serbu AR-15 dari tentara yang tewas justru terlalu terburu-buru. Sedangkan tak ada siapa-siapa lagi di situ yang patut dikuatirkan. Seharusnya ia mengambil rompi anti peluru, helm, dan perbekalan lain termasuk magazen amunisi tambahan. Pasalnya, magazen AR-15 hanya berisi 30 butir peluru saja. Sedangkan perjalanannya ke kamp militer tempat Sam dibawa jauh sekali. Juga ada bloopers ketika di hutan Cassie tampak membuang boneka beruang Teddy milik Sam yang sempat diambilnya di kamp pengungsi. Tetapi di scene berikutnya boneka itu muncul lagi dari dalam tas sekolah yang disandangnya.

Walau begitu, secara keseluruhan, film ini keren. Secara tempo dan alur, film ini enak dinikmati. Ketika diperlukan, alur film ini melambat seperti saat Cassie berada di rumah Evans. Tapi juga bisa cepat seperti saat Cassie dan Evans berada di hutan. Seperti halnya film-film Hollywood lain, film berbiaya US$ 8,2 juta ini digarap sangat serius. Karena itu tak heran perlengkapan film ini luar biasa. Terutama saya kagum sekali saat di jalan bebas hambatan diperlihatkan begitu banyak mobil yang ditinggalkan dalam keadaan rusak. Dan ini mengingatkan saya pada I Am Legend (2007), dimana juga digunakan mobil-mobil asli di jalanan betulan, bukan rekayasa CGI (Computer Graphic Imagery). Mengagumkan!

Terus-terang, saya sangat menunggu sekuelnya karena film ini membuat penasaran. Tetapi melihat pengalaman sebelumnya, sekuel film berikutnya baru akan rilis tahun depan. Walaupun ide dasarnya tidaklah asli, tetapi tetap menarik. Misalnya contoh film yang mengusung ide pancaran elektromagnetik skala besar adalah The Darkest Hour (2011).  Jadi, film The 5th Wave ini jelas sebuah film yang asyik ditonton di awal tahun.

 

 

Catatan: Untuk melihat trailer film ini, dapat dilihat dengan meng-klik gambar poster film ini di bagian kiri atas tulisan.

 

Leave a Reply