Resensi Film-Bhayu MH

The Raid

Year : 2011 Director : Gareth Evans Running Time : 101 mins. Genre : , , , , ,
Movie review score
4/5

Kalau tidak menggunakan bahasa Indonesia, kita mungkin akan mengira ini film besutan sineas Hollywood atau minimal Hongkong. Betapa tidak, aksi laga dan baku tembak penuh darah mewarnai film sepanjang sekitar dua jam ini.

Kisahnya sendiri “sederhana”. Cuma berupa penyerbuan pasukan khusus kepolisian (di AS disebut SWAT=Special Weapons And Tactics) ke sebuah flat yang dikuasai semacam pemimpin kartel atau boss mafia. Sayangnya, pasukan ini malah terjebak di sana dan dibantai habis oleh para penghuni flat. Hampir semua petugas penyerbu tewas, sehingga membuat panik yang masih bertahan hidup. Bagaimana para petugas yang seharusnya ahli dan terlatih justru terjebak dalam situasi mengerikan, itulah inti ceritanya.

Film ini beredar luas di luar negeri dan juga mendapatkan apresiasi positif. Bahkan banyak yang menyejajarkan karya sutradara Gareth Evans ini dengan karya sineas terkemuka seperti John Woo. Ini terutama karena adegan laganya luar biasa brutal. Tidak ada sensor saat pisau menghunjam dada dan darah menyemburat keluar.

Walau begitu, bukan berarti film The Raid (ada versi yang diberi tambahan sub-judul “Redemption” karean direncanakan sebagai trilogi) ini tanpa kelemahan. Adegan laga yang ditampilkan secara mentah begitu banyak bertaburan di film ini, malah membuat saya mengantuk. Selain itu, bangunan karakter tiap tokoh juga kurang tergali. Demikian pula dengan konflik yang terjadi, tidak begitu jelas apa sebabnya. Hanya tampak saat pasukan penyerbu tidak bisa meminta bantuan saat terdesak, karena ternyata operasi itu tidak resmi. Konflik satu lagi nampak saat tangan kanan boss mafia itu ternyata adalah kakak dari salah satu anggota tim penyerbu.

Secara wardrobe, seragam hitam tanpa tanda pengenal kesatuan juga agak tidak biasa. Mungkin tidak mendapatkan izin dari Polri atau malah pembuat filmnya sekedar tidak mau repot bila nanti dituntut. Sebabnya, pasukan penyerbu di film ini bekerja atas pesanan seseorang alias operasi gelap. Jadi, mereka bukan “orang baik-baik”. Penonton bisa saja mengira pasukan itu bukan polisi karena tidak ada tulisan “Polisi” atau “Police” di bagian punggung rompi anti peluru yang dikenakan. Demikian pula di mobil van yang dipakai juga tidak ada identitasnya, bahkan sekedar plat nomor. Identitas pasukan penyerbu baru terkuak saat seorang anak yang berjaga berteriak memperingatkan sang pemimpin kartel: “Polisi!”

Senjata yang digunakan juga agak tidak biasa. Kebanyakan memakai senapan serbu M-16-A1, jenis yang tidak umum dipakai pasukan yang akan terlibat CQB (Close Quarter Battle). Biasanya, favorit pasukan khusus adalah Heckler & Koch MP-5. Dan saat pasukan baru akan masuk, terlihat semua senapan menggunakan peredam suara (silencer). Namun anehnya, saat terjadi baku tembak, suara tembakan yang muncul adalah suara tembakan normal tanpa silencer. Dugaan saya, silencer sengaja dipakai agar penonton nggak ngeh bahwa senjata yang dipakai adalah “air soft gun”. Karena memang senjata replika mainan ini moncong larasnya sengaja dibuat berbeda dengan senjata asli.

Alur cerita juga agak tergesa-gesa di 30 menit terakhir. Setelah hampir semua anggota pasukan penyerbu tewas di lantai 5 hingga 7, tiga orang tersisa malah mampu mencapai lantai 15 tempat si boss berada. Padahal dari CCTV yang dipantau dari control room di lantai teratas itu, seharusnya gerakan ketiga orang tersebut saat naik bisa terpantau. Ini kurang bisa diterima nalar.

Demikian pula di banyak tempat terlihat adegan laganya adalah hasil sambungan bagian pita film berbeda hasil kerja editing room. Ini bisa jadi karena sulitnya membuat adegan laga berdurasi panjang sekaligus dalam satu kali take tanpa kesalahan sama sekali. Apalagi banyak pemain yang sebenarnya tidak terbiasa bela diri. Walau begitu, secara umum film ini masih sangat keren untuk dinikmati. Saya terutama kagum pada lokasi shooIting yang membuat saya bertanya-tanya, “Di mana ya flat ini aslinya terletak?”

Jadi, saran saya, jangan lewatkan film ini! Menontonnya membuat kita bangga bahwa kualitas sineas kita tak kalah dengan Hollywood. Walau untuk segi peralatan dan teknologi jelas masih tertinggal jauh. Tentu saja, dilarang menonton bagi mereka yang berpenyakit jantung atau asma serta takut melihat darah dan kekerasan.

 

Leave a Reply