Resensi Film-Bhayu MH

The Wolf of Wall Street

Year : 2013 Director : Martin Scorsese Running Time : 179 minutes Genre : , , , , , , , ,
Movie review score
4/5

Geblek! Bener-bener geblek! Ini film paling geblek yang pernah saya tonton selama ini.

Tapi tunggu dulu. Itu bukan dalam artian negatif, tapi justru sangat positif. Film ini memberikan inspirasi besar bagi saya untuk berjuang lebih keras dalam hidup. Dan bahwa ada banyak sekali jalan sukses, terutama melalui jalan yang ditunjukkan dalam film ini.

Pertama-tama, saya harus menekankan bahwa kisah film ini nyata. Ditulis berdasarkan buku autobiografi pelakunya sendiri, yang di film ini jadi tokoh utama.

Film ini berlatar belakang bursa saham di New York, pada dekade 1980-1990-an. Diawali dengan sebuah iklan asli dari sebuah perusahaan pialang saham bernama “Stratton Oakmont, Inc.” dilanjutkan penggambaran para pegawai di firma tersebut sedang berpesta. Dan sang tokoh utama film ini memperkenalkan diri. Dialah Jordan Belfort. Ia memperkenalkan diri sendiri dengan narasi mengenai asla-usulnya sebagai putra pasangan akuntan yang tinggal di Bayside-Queens. Apa yang membuatnya fenomenal adalah di usia 26 tahun sebagai pemilik firma sahamnya sendiri ia menghasilkan US$ 49 juta dalam waktu hanya 3 pekan! Ia memamerkan apa yang dimilikinya. Selain Ferrari 350 Testarossa, rumah mewah, mansion (rumah peristirahatan), 2 rumah liburan, yacht (kapal pesiar) sepanjang 170 kaki, pesawat jet pribadi, enam mobil dan tiga ekor kuda, Jordan juga memiliki istri idaman setiap pria: seorang mantan model yang cantik dan seksi. Tanpa merasa bersalah, Jordan juga menyebutkan ia tengah dikejar tiga lembaga penegak hukum federal berbeda. Ia juga mengakui kecanduan berjudi dan mengkonsumsi obat-obatan terlarang.

Adegan lantas menunjukkan Jordan yang tengah mengemudikan helikopter dalam keadaan mabuk berat berupaya mendaratkannya. Meski sempat oleng, akhirnya dengan bantuan pilot ia berhasil mendarat di lapangan rumput halaman rumahnya.

Kembali Jordan bernarasi, menceritakan bahwa kebiasaannya tiap hari mengkonsumsi obat terlarang aneka jenis dengan jumlah yang mampu memenuhi kebutuhan di Manhattan, Long Island an Queens untuk sebulan. Salah satu yang menjadi favoritnya adalah kokain yang dihisapnya ke hidung menggunakan uang pecahan US$ 100. Saking kayanya, sehabis menghisap uang itu dibuang ke keranjang sampah. Dan Jordan memulai ceritanya bahwa film itu bukan tentang obat terlarang, tapi tentang uang.

Adegan lantas kilas-balik ke masa awal Jordan mulai bekerja di dunia pialang saham pada tahun 1987. Saat itu, usianya 22 tahun dan baru saja menikah. Ia masuk dari tingkat paling bawah sebagai penghubung atau connector di sebuah firma pialang saham di Wall Street bernama L.F. Rothschild. Sesuai prosedur, ia diberikan pengarahan singkat oleh  seorang staf. Tapi kemudian atasannya yang lebih tinggi pangkatnya bernama Mark Hanna mendatangi mejanya dan mengajaknya makan siang. Ia pun menyadari bahwa rekan-rekan kerjanya si Wall Street sangat terbiasa menggunakan kata makian satu berkomunikasi satu sama lainnya.

Di saat makan siang bersama inilah Jordan diberikan semacam wejangan oleh Mark agar mengubah gaya hidupnya. Pertama dengan meningkatkan frekuensi bercintanya. Kedua dengan mengkonsumsi obat terlarang terutama kokain yang dihisap melalui hidung. Ia pun diberikan pengertian bahwa tugas pialang saham adalah menyediakan menu di meja supaya disantap oleh client. Tidak penting apakah client untung atau rugi dari investasi yang ditanamkan. Karena bagi broker atau pialang, yang penting adalah penghasilan dari komisi setiap kali transaksi.

Ternyata Jordan cocok dengan pola kerja dan gaya hidup pialang saham, sehingga dalam waktu singkat ia berhasil mengantungi sertifikat lisensi pialang saham yang di A.S. disebut “Series 7”. Sayangnya, di hari pertama ia bekerja penuh sebagai pialang saham berlisensi, terjadi malapetaka di bursa saham A.S. Hari itu tanggal 19 Oktober 1987, yang dalam sejarah ekonomi-moneter A.S. dikenal dengan sebutan “Black Monday”. Hari itu, pasar turun drastis (bearish) hingga 508 point, terbesar sejak krisis serupa pada tahun 1929. Perusahaan tempat Jordan bekerja yang telah berdiri sejak 1899 pun tutup. Jordan terpaksa keluar dari gedung megah yang beralamat di 120 Broadway itu.

Menjadi pengangguran dengan seorang istri membuat Jordan kebingungan. Ia lantas mencoba mencari iklan lowongan kerja di surat kabar. Istrinya Teresa meyakinkannya bahwa jiwanya adalah di dunia pialang saham sehingga menyarankannya tetap di bidang tersebut. Ada satu iklan lowongan untuk bekerja sebagai pialang saham di sebuah tempat bernama “Investor’s Center” di Long Island. Sesampainya di sana, ia disambut oleh pimpinannya yang bernama Dwayne. Kantor itu ternyata semacam “boiler room” yang memainkan saham dalam pecahan kecil, yang disebut “penny stocks”. Pada saat itu, hal ini belum diatur oleh regulator bursa saham. Jordan terkesima ketika ia mengetahui komisi dari setiap transaksi di sana mendapatkan komisi 50 %. Ini jauh lebih tinggi daripada saat ia bekerja di Wall Street untuk bursa saham besar dimana ia hanya mendapatkan 1 % saja dari tiap saham blue chip yang ditransaksikan.

Dengan daftar client yang dimilikinya, Jordan dengan cepat meraih peruntungan di sana. Untuk pertama kalinya di firma kecil itu, transaksinya berhasil menembus ribuan dollar. Jordan pun diberikan selamat dan sanjungan bak pahlawan. Ia pun bisa hidup cukup mewah untuk ukuran kota kecil itu. Mobil Jaguar kuningnya yang terkategori mewah menarik perhatian banyak orang, termasuk seorang pria gemuk. Pria ini menghampirinya di sebuah kedai saat Jordan sedang makan siang dan bertanya, apa pekerjaan Jordan hingga memiliki mobil semewah itu. Jordan pun berterus terang. Pria tadi yang memperkenalkan diri bernama Donnie Azoff pun menanyakan berapa penghasilan Jordan. Setelah diterangkan penghasilannya bulan lalu US$ 72,000, Donnie terbelalak. Ia pun berjanji apabila Jordan menunjukkan buktinya, ia akan segera keluar dari pekerjaannya sebagai salesman di bidang furniture dan bekerja untuk Jordan.

Betul saja. Segera setelah Jordan menunjukkan ceknya, Donnie menelepon boss-nya dan resign. Jordan pun mengundurkan diri dari “Investor Center” dan memutuskan memulai firma sendiri bersama Donnie. Berdua mereka mencari tempat untuk disewa sebagai kantor, pertama-tama berupa sebuah garasi kosong milik bekas perusahaan Frank’s Best Auto Body yang tutup. Mereka juga merekrut tenaga penjual yang semuanya tidak punya pekerjaan tetap dan mendapatkan uang dari menjual mariyuana. Dari keempat orang yang diundang ke restoran untuk makan bersama dan mendapatkan penjelasan, semuanya bekerja secara langsung untuk Jordan kecuali satu orang yang di kemudian hari bertugas menjadi semacam petugas pencucian uang dan preman perusahaan. Mereka adalah Alden “Sea Otter” Kupferberg, Chester Ming, dan Robbie Feinberg. Hanya Brad Bodnick yang tidak bekerja di firma milik Jordan karena sudah “Raja Quaalude” di Bayside. Tapi ia tetap bekerja bagi Jordan di luar struktur perusahaan. Selain mereka juga bergabung Nicky “Rugrat” Koskoff. Ia satu-satunya yang lulusan perguruan tinggi, sementara yang lain cuma tamatan SMA bahkan Sea Otter tidak lulus.

Berkat keahlian marketing Jordan dan efisiensi akuntansi Donnie, dengan cepat firma mereka berkembang. Terutama setelah Jordan mengganti nama perusahaannya menjadi bernuansa Wall Street lengkap dengan logo yang mentereng. Dengan nama “Stratton Oakmont”, firma baru itu berkembang amat cepat hingga merekrut lebih banyak lagi tenaga penjual dan pialang hingga 20 orang pegawai awal. Pada akhirnya, mereka pun memerlukan diri untuk pindah ke kantor yang lebih besar. Karena menyasar pemilik modal besar untuk berinvestasi di saham pecahan kecil, maka di bulan pertama saja mereka berhasil mendapatkan komisi ribuan dollar.

Cerita kesuksesan mereka dengan segera menyebar. Bahkan majalah Forbes mewawancarai Jordan dan menurunkan artikel bagus tentangnya, bahkan menjulukinya “Wolf of Wall Street”. Akibat artikel itu, kantor Stratton Oakmont diserbu pelamar.

Karena mudahnya mendapatkan uang, maka Jordan dan teman-temannya pun mudah pula menghamburkannya. Mereka kerap berpesta seks dan obat terlarang. Bahkan kantor mereka pun jadi arena seks bebas. Meski sudah diingatkan oleh Max -ayah Jordan- yang bertindak sebagai semacam pengawas, tapi mereka tak peduli. Dewan direksi Stratton Oakmont –Jordan, Donnie, Nicky dan Robbie- sedang merancang pesta yang ditampilkan di awal film saat Max datang ke kantor.

Karena kesuksesannya, kegiatan mereka diendus oleh FBI. Agen khusus yang mengusut mereka bernama Patrick Denham. Bukan penggunaan obat terlarang dan pesta seksnya yang disasar, melainkan operasi pasar modal illegal dan pencucian uang-lah yang mereka amati.

Untuk merayakan kesuksesan mereka, Jordan menggelar pesta di rumah pantainya yang mewah. Karena artikel di Forbes, Jordan dijuluki “Wolfie” oleh teman-temannya. Di sela-sela pesta, Jordan bersama tim intinya berunding mengenai rencana mencari perusahaan untuk IPO (Initial Public Offering=Penawaran Saham Perdana) di bursa saham. Di saat itu sempat diselipkan narasi tentang obat terlarang bernama Quaaludes yang digandrungi Jordan dan teman-temannya. Donnie menyebutkan bahwa pemilik perusahaan produsen sepatu wanita yang tengah trendy bernama Steve Madden adalah teman SMA-nya. Steve selalu menolak saat diminta IPO oleh firma Wall Street lain. Tapi karena hubungan itu kemudian Donnie berjanji mengontak Steve.

Di saat pesta itulah masuk seorang wanita cantik dan seksi ke pesta tersebut. Sea Otter yang pertama melihatnya dan menunjukkannya kepada Jordan yang juga dipanggil dengan insialnya “J.B.”. Sang pemilik rumah turun dan meminta dirinya diperkenalkan oleh Cristy kepada wanita itu yang adalah temannya. Meski datang bersama pacarnya yang mengaku bernama Blair Hollingsworth, Jordan tak gentar dan terus menggoda wanita bernama Naomi itu. Teresa yang melihat kejadian itu mencoba mengganggu dengan meminta Hildy memanggil suaminya. Meski di pesta itu Naomi tak lama karena diajak pulang oleh pacarnya, Jordan kemudian mengajaknya berkencan setelah menanyakan nomor telepon pribadinya kepada Cristy.

Tanpa perlu banyak usaha, Jordan berhasil merebut hati Naomi. Perselingkuhan mereka akhirnya diketahui Teresa, istri Jordan yang kemudian diceraikannya. Cuma tiga hari kemudian, Jordan meminta Naomi pindah ke apartemen pribadinya.

Sementara itu, penyelidikan atas perusahaan Jordan terus berjalan. Badan regulator pengawas pasar modal Amerika Serikat yaitu the Securities and Exchange Commission (S.E.C.) melakukan audit di kantor Stratton Oakmont. FBI pun terus meningkatkan penyelidikan. Oakmont pun menyewa Manny Riskin, pengacara khusus sekuritas untuk melindungi mereka.

Yakin pada dirinya, Jordan jalan terus. Ia memutuskan melamar Naomi dan menikahinya secara resmi. Selain memberikan cincin kawin berlian dan pesta yang megah bak di negeri dongeng, Jordan juga memberinya hadiah pernikahan berupa sebuah yacht (kapal pesiar) pribadi mewah. Di pesta pernikahan yang diadakan di areal Bahamas Ocean Castle, Jordan mengundang bibi Emma dari Inggris. Dia adalah bibi Naomi dari pihak ibunya. Menggunakan yacht baru yang diberi nama “The Naomi”, Jordan dan Naomi berlayar ke rumah mereka di Gold Coast, areal kompleks perumahan termahal di Long Island.

18 bulan kemudian, pasangan itu sudah memiliki seorang putra yang diberi nama Skylar.  Di suatu pagi, Naomi membangunkan Jordan dengan marah karena dalam tidurnya suaminya menyebutkan nama “Venice”. Meski berdalih itu adalah lokasi tempat ia berinvestasi bersama Donnie, Naomi tetap marah. Adegan kemudian memperlihatkan bagaimana Jordan berjalan setelah turun dari helikopter dalam keadaan mabuk yang cuplikannya sempat diperlihatkan di awal film. Ia tercebur ke kolam renang dan menyalakan sistem alarm keamanan sehingga membangunkan Skylar. Mereka pun bertengkar hebat.

Ketika kembali ke kantornya,  Jordan menyiapkan IPO perusahaan sepatu wanita Steve Madden Ltd. Tawaran mereka mendapatkan sambutan pasar. Dimulai dari harga pembukaan US$ 4.50 per saham pada jam 13:00, cuma dalam 3 menit melonjak jadi US$ 18. Walhasil, Stratton Oakmont menghasilkan US$ 22 juta cuma dalam tiga jam saja!

Penyelidikan FBI makin menjadi, hingga Jordan menyewa seorang mantan polisi yang kini menjadi detektif swasta (PI=Private Investigator) bernama Bo Dietl. Ia diperingatkan agar tidak menghubungi Denham, agen dari kantor FBI New York yang menyelidikinya. Tapi Jordan malah mengundang mereka ke yacht-nya. Agen khusus Denham datang bersama agen khusus Hughes. Jordan mencoba menyuap mereka dengan hati-hati, tapi gagal.

Mereka makin kuatir pada penyelidikan FBI yang menjadi-jadi, termasuk meminta salinan video pernikahan Jordan kepada pembuatnya, Barry Kleinman. Hingga akhirnya ada jalan keluar yang ditawarkan Nicholas “Nicky the Rugrat” Koskoff. Karena pernah berkuliah hukum, ia mengenal seorang bankir Swiss. Negara itu tidak memiliki perjanjian hukum dengan A.S. dan merupakan negara netral sehingga sering dijadikan tempat pelarian atau penyembunyian uang.

Dalam perjalanan ke Swiss, di pesawat terbang Jordan membuat kekacauan karena pengaruh obat terlarang. Ia sempat diamankan kapten dan ditahan otoritas bandara. Tapi akhirnya mereka lepas berkat jaminan Nicky dan rekannya. Mereka pun tiba di bank, disambut oleh Jean-Jacques Saurel teman Nicky. Setelah mendapatkan nasehat finansial, mereka pun memutuskan membuka rekening dengan berbagai nama selain nama mereka sendiri. Salah satunya dengan menggunakan nama Bibi Emma yang berkewarganegaraan Inggris. Untuk menyelundupkan uang tunai keluar A.S., mereka juga menggunakan jasa istri Brad bernama Chantalle. Meskipun ia berasal dari Slovenia, tapi lahir di Swiss sehingga salah satunya juga memiliki kewarganegaraan Swiss (di A.S. dan Uni Eropa, seseorang bisa memiliki kewarganegaraan lebih dari satu).

Meski mau menolong Jordan, Brad sempat keberatan menolong Donnie karena tidak menyukai gaya “bossy”-nya. Brad juga kerapkali mengejek Donnie karena dianggapnya biseksual dalam arti juga menyukai hubungan sesama jenis. Setelah didamaikan Jordan, akhirnya Brad bersedia bekerjsama walau sempat memukul Donnie hingga terkapar. Bahkan, Chantalle juga mengikutsertakan keluarga dan teman-temannya. Demikian pula dengan Bibi Emma. Bersama-sama, mereka menyelundupkan puluhan juta dollar A.S. ke Swiss.

Sayangnya, saat Donnie menemui Brad di lapangan parkir, keduanya bertengkar hingga menarik perhatian polisi patroli yang lewat. Brad ditangkap dengan tas koper berisi uang jutaan dollar A.S. milik Donnie.

Pusing karena memikirkan uangnya yang disita, Donnie malah mengajak Jordan untuk teler. Ia membawa sebuah obat terlarang istimewa bernama “Lemmons 714”. Obat ini sudah dilarang sejak lama di A.S., karena itu sangat langka. Donnie mendapatkannya dari seorang apoteker yang telah menyimpannya di lemari obat selama 15 tahun. Donnie beralasan hal itu adalah untuk merayakan keberhasilan mereka menyelundupkan uang ke Swiss dengan aman.

Menunggu beberapa menit, mereka berdua heran karena obat yang konon 3 kali lebih keras daripada Quaalude itu tidak berefek apa-apa. Hingga akhirnya mereka memutuskan menenggak satu butir lagi. Bahkan setelah berolahraga di ruang fitness pribadi rumah Jordan, meski metabolismenya meningkat, mereka masih belum merasakan efek fly-nya. Melihat masa kadaluarsanya sudah sejak tahun 1981, keduanya memutuskan menenggak lagi tablet tersebut. Di saat itulah Naomi yang sedang hamil anak kedua turun dari tangga dan memberitahukan Bo Dietl menelepon.

Bo meminta Jordan mencari telepon umum karena telepon rumahnya sudah disadap FBI. Jordan pergi ke Brookville Contry Club yang berjarak sekitar 1 mil dari rumahnya. Di klub khusus orang kaya itu, Jordan menelepon Bo. Tepat di saat itulah, efek “Lemmons 714” mulai nendang, 90 menit setelah ditelan. Jordan kaget bukan alang-kepalang, tapi tak berdaya melawan efeknya. Selain kehilangan kemampuan bicara, otaknya juga tak mampu mengendalikan saraf motoriknya hingga ia tak bisa berjalan seperti bahkan bergerak pun sulit. Ia bak seorang imbisil karena terserang “cerebral palsy”. Jordan merangkak seperti Skylar ke mobilnya. Ia bermaksud memperingatkan Donnie yang masih berada di rumahnya. Apalagi setelah ia mencoba menelepon dari mobil kepada Naomi, istrinya melaporkan Donnie sedang bicara di telepon.  Tapi ucapannya yang tak jelas akibat pengaruh obat tidak dimengerti istrinya. Sehingga Jordan nekat mengendarai Lamborghini-nya pulang.

Ketika sampai di rumah, Jordan dengan susah payah memberitahu Donnie yang sedang menelepon Saurel. Karena keduanya sama-sama sedang high akibat efek Lemmons, maka komunikasi tak berjalan lancar. Bahkan beberapa piring di meja hancur karena disapu gerakan tangan Jordan yang tidak terkoordinasi. Jordan akhirnya berhasil merebut telepon dari tangan Donnie setelah mengatakan satu nama: “Brad”. Donnie yang juga terkejut, berusaha kabur dari Jordan ke ruang makan. Di sana, ia mencomot beberapa iris daging ham. Karena koordinasi motoriknya payah, Donnie malah tersedak irisan daging tersebut dan nyaris tewas. Naomi panik, sementara Jordan berupaya menambah tenaga dengan menghirup kokain. Polisi patroli kemudian datang dan menahan Jordan karena mendapatkan laporan adanya pengemudi mabuk yang menyetir. Ini pelanggaran hukum di A.S. yang disebut D.U.I. (Driving Under Influence=Menyetir Dalam Keadaan Mabuk akibat Pengaruh Alkohol atau Obat Terlarang). Akan tetapi Jordan dilepaskan karena polisi tidak bisa membuktikan bahwa dialah yang menyetir Lamborghininya hingga hancur karena menabrak sana-sini dalam perjalanan.

Brad sendiri ditahan tiga bulan tapi ia tidak membocorkan rahasia uang siapa yang dibawanya. Dengan demikian, baik Donnie maupun Jordan aman.

Di ranch-nya, Jordan dibujuk oleh Max dan Manny Riskin untuk mengundurkan diri dari Stratton Oakmont. Ia diyakinkan bahwa ia tak perlu bekerja lagi sepanjang sisa hidupnya. Manny berjanji akan mengurus S.E.C. agar Jordan lepas dari jeratan hukum.

Ketika kembali ke kantor, pengunduran diri Jordan sebagai C.E.O. telah diumumkan. Ia menunjuk Donnie Azoff sebagai penggantinya. Nicky Koskof dan Robby Feinberg pun dipromosikan sebagai wakil presiden. Pidatonya mengharukan pegawai, terutama 20 orang yang telah berjuang sejak awal. Jordan menceritakan bagaimana seorang pegawai awal Stratton bernama Kimmie Belzer datang kepadanya dalam kondisi miskin. Ia bahkan meminta agar gajinya dibayar di depan untuk membiayai sekolah anaknya. Para pegawai mencintainya karena Jordan ringan tangan, mudah membantu dan pandai memotivasi. Tetapi setelah berpidato panjang-lebar, pada akhirnya Jordan membatalkan pengunduran dirinya. Ia tetap menjabat sebagai C.E.O. Stratton Oakmont, Inc.

Mereka sempat berpesta untuk menyambut kebebasan Brad dari penjara. Sedihnya, Brad tewas dua tahun kemudian akibat serangan jantung saat berusia 35 tahun.

Akibat Jordan tetap bertahan di Stratton, surat somasi (subpoena) pun berdatangan. Donnie, Nicky, Alden, Tobby, Chester, Robbie dan tentu saja Jordan sendiri diinterogasi. Tapi tak satu pun personel Stratton angkat bicara dan membocorkan rahasia. Untuk menghindari kasus hukum lebih lanjut, Jordan dan Donnie beserta istri masing-masing berlayar ke luar negeri dengan yacht milik Jordan.

Kapal akhirnya berlabuh di Italia, berlibur namun tetap mengontrol perusahaan dari jarak jauh. Tiba-tiba Nicky yang menjadi pelaksana tugas pimpinan di Stratton menelepon karena terdapat indikasi pelepasan saham dalam jumlah besar dari Steve Madden. Hal ini membuat harga saham perusahaan itu jatuh. Padahal, mayoritas saham dimiliki oleh Stratton sendiri sehingga berpotensi menimbulkan kerugian. Masih belum cukup kabar buruknya, Jordan mendapatkan kabar tambahan dari istrinya yang baru pulang shopping bersama Hildy kalau Bibi Emma meninggal dunia. Jordan terkejut. Karena sebagian besar uangnya disimpan di Swiss atas nama Bibi Emma. Dengan panik, Jordan menelepon Saurel, kuatir uangnya sejumlah US$ 20 juta hilang.

Menurut Saurel, Bibi Emma telah menandatangani surat wasiat yang menunjuknya sebagai ahli waris. Dengan sengaja Saurel berbahasa Prancis agar Jordan bingung. Intinya, ia meminta Jordan agar datang ke Swiss keesokan harinya. Ia memanggil kapten kapal, Captain Ted Beecham dan memaksanya berlayar ke Monako. Tujuannya agar paspor mereka tidak perlu dicap lagi di perbatasan antar negara karena mereka bisa menempuh jalur darat dari Italia ke Swiss. Ia mengabaikan keberatan dari istrinya yang ingin menghadiri pemakaman Bibi Emma di London. Rencana mereka cukup gila karena kapal sekelas yacht sebenarnya tidak dirancang untuk perjalanan sejauh dan secepat itu.

Benar saja, di perjalanan, kapal mereka diserang badai dahsyat. Jetski dan helikopternya terlempar ke laut, dek dibanjiri air. Pada akhirnya, satu gelombang besar menenggelamkan mereka. Kapten kapal sempat mengirim sinyal darurat hingga mereka diselamatkan Angkatan Laut Italia. Saat masih berada di kapal AL Italia, Jordan melihat pesawat jet yang dikirmnya ke Jenewa untuk menjemput dirinya meledak. Mesin jet itu dimasuki burung camar hingga meledak dan menewaskan tiga orang awaknya. Melihat itu semua, Jordan menganggap itulah pertanda Tuhan sehingga ia memutuskan berhenti sebagai pialang.

Ia kemudian beralih profesi sebagai motivator dengan spesialisasi marketing and sales trainer. Dua tahun setelah kejadian tenggelamnya yacht mereka di perairan Italia, Denham dan FBI menahan Jordan saat sedang merekam iklan untuk pelatihannya. Saurel yang diajak berpesta oleh Nicky di Florida ditahan atas tuduhan lain. Ternyata, Nicky dan Saurel melakukan pencucian uang untuk seorang bandar besar narkotika dan obat terlarang bernama Rocky Aoki. Ia menutupinya dengan menjalankan bisnis restoran cepat saji ala Jepang bernama “Benihana.” Saurel bersedia bekerjasama dengan FBI dan membongkar semua rahasia Jordan. Ia dibebaskan dan meneruskan hubungan terlarangnya dengan istri Brad, Chantalle.

Dalam tahanan, FBI menawarkan pembebasan bersyarat kepada Jordan asalkan ia mau bekerjasama. Ia dikenakan tahanan rumah dan harus mengenakan gelang elektronik di pergelangan kaki untuk mengontrol keberadaannya. Donnie yang menggantikan Jordan sebagai C.E.O. Stratton mengunjungi Jordan di rumahnya.

Lebih jauh, FBI menawarkan pengurangan tuntutan  hukuman kepada Jordan. Dengan begitu banyaknya tuntutan, minimal Jordan akan dihukum 20 tahun penjara atau malah seumur hidup. Jordan bersedia bekerjasama dengan menggunakan penyadap.

Dengan bersemangat, Jordan menuturkan potensi pengurangan hukuman itu kepada istrinya. Meski baru bercinta, istrinya menganggap Jordan tetap akan mendapatkan hukuman lama sehingga ia meminta bercerai dan hak asuh penuh atas kedua anak mereka. Jordan marah, menghirup kokain dan mencoba membawa lari putri mereka. Tapi karena ia mabuk, mobilnya menabrak pembatas di halaman rumah.

Keesokan harinya, Jordan mengunjungi Donnie di kantor Stratton. Tujuannya untuk mengorek pengakuan Donnie. Tapi Jordan memperingatkan sobatnya itu dengan tulisan kalau ia menggunakan penyadap. Sehingga FBI tidak mendapatkan bukti yang diharapkan. Tindakannya kemudian diketahui FBI sehingga ia kembali ditahan dan diancam. Pada akhirnya FBI menyerbu kantor Stratton Oakmont, menahan sejumlah pegawai penting dan menutup operasionalnya.

Meskipun perusahaannya ditutup, Jordan mendapatkan pengurangan hukuman yang sangat signifikan. Ia hanya ditahan selama 36 bulan di penjara berkeamanan minimum di Nevada. Di dalam penjara, ia bahkan masih bisa bermain tenis meski kehilangan hampir seluruh kekayaannya. Seusai menjalani masa hukuman, Jordan kembali menekuni karir sebagai motivator dan trainer.

Kritik Film

Seperti saya tuliskan di awal, film ini sangat menginspirasi sekaligus menghibur. Berasal dari kisah nyata, film ini memberikan saya ide bagaimana meraup uang dari bursa saham. Tapi selain itu, juga menghibur karena banyak adegan kocak yang tidak slapstick.

Penampilan para aktor dan aktrisnya bagus, terutama Leonardo di Caprio. Ia tampak jauh lebih matang daripada saat bermain di film yang melambungkan namanya, Titanic (1997). Saya paling suka aktingnya saat sedang high akibat over-dosis Lemmons. Sangat mirip dengan aslinya walau di beberapa gerakan tampak masih terlalu cepat dan tangkas untuk orang yang terkena serangan “cerebral palsy”.

Walau begitu, harus diingat sebagian besar trik yang dilakukan Jordan dengan Stratton Oakmont kini sudah terlarang dan diawasi ketat oleh otoritas hukum dan regulator pasar modal di A.S. Sehingga hampir mustahil dijalankan kembali. Tetapi, masih ada banyak cara halal dan legal yang bisa ditempuh untuk mendapatkan banyak uang dari pasar modal atau bursa saham.

Tentu saja, banyak penggambaran di film ini tak sesuai dengan budaya dan norma yang kita anut. Bukan hanya penggambaran kebiasaan melakukan seks bebas dan menggunakan narkoba saja, tapi juga pelafalan kata-kata makian secara sangat vulgar bertebaran di sepanjang film. Akibatnya, film ini dilarang tayang di Malaysia, Nepal dan Kenya.  Di Singapura dan India film ini dibatasi penayangannya serta dipotong adegannya.

Walau begitu, pasar dan kritik sama-sama menyambut positif. Ia antara lain mendapatkan nilai rata-rata 7,8 dari maksimal 10 atau 77 % nilai penerimaan positif berdasarkan 231 resensi di  Rotten Tomatoes. Dengan biaya produksi US$ 100 juta, film ini berhasil meraup pendapatan lebih dari US$ 300 juta. Berbagai penghargaan dan nominasi juga berhasil diraihnya, termasuk Academy Awards dan Golden Globe untuk sejumlah kategori.

Sebagai pribadi yang menyukai kebebasan finansial dan  berekspresi serta selalu ingin maju, saya sangat termotivasi oleh film ini. Walau tentu saja sebagai orang Indonesia yang patuh hukum negara dan taat beragama ada banyak hal yang harus dibuang dari tingkah laku Jordan Belfort.

Leave a Reply