Resensi Film-Bhayu MH

V-for-Vendetta

Year : 2005 Director : James McTeigue Running Time : 132 minutes Genre : , , , , , , ,
Movie review score
4/5

Kritik Film

Ide film ini sangat orisinal, bahkan bisa dibilang brilyan. Karena tidak sekedar berhenti pada film belaka, tetapi kemudian mempengaruhi gerakan cultural nyata di masyarakat. Simbol V dan topeng “Guy Fawkes” yang dipakai Vendetta menjadi simbol gerakan perlawanan rakyat terhadap penguasa lalim.

Mengambil setting tempat di Inggris dan waktu di tahun 2030, film ini seolah malah historis. Karena penggambaran masyarakatnya seperti di abad pertengahan.

Bagi penonton film kebanyakan, ide dasarnya sederhana: balas dendam. Tetapi bagi yang mau menelaah lebih dalam, sesungguhnya muatan filosofis film ini dalam. Termasuk dalam soal anti-kapitalisme dan kekuasaan korup.

v_for_vendetta___2005_film_poster_by_crustydog-d4x3yukHuruf “V” sendiri jelas diasosiasikan dengan “Vigilante”. Ini adalah istilah untuk mereka yang melakukan gerakan “pembalasan” dengan “hukum rimba”, tetapi hanya kepada mereka yang dianggap merugikan masyarakat atau nilai-nilai kebajikan. Mereka bertindak karena frustrasi pada hukum formal yang kerapkali bisa diakali oleh para penjahat. Semua “comical superhero” adalah vigilante, karena itu mereka pada awalnya digambarkan menjadi “musuh polisi dan pemerintah” karena dianggap mengacaukan dan mencampuri tugas mereka.

Film ini menggambarkan bagaimana sebuah tujuan mulia bisa mendapatkan dukungan luas dari masyarakat, walau dimulai dari satu orang saja. Dan juga menunjukkan kekuatan rakyat dan kebenaran, walau harus menghadapi tekanan kekuasaan yang kuat.

Bumbu romantis antara V dan Evey –yang bukan kebetulan namanya mirip- menjadikan film ini lebih berwarna. Walau tak seperti film-film lain, justru bukan wanita itu yang jadi tujuan dan latar-belakang V melawan musuhnya. Karena perseteruan antara V dengan pemerintah pimpinan High Chancellor Adam Suttler sudah berlangsung lama.

Detail penampakan hal-hal yang dilarang pemerintah cukup mengesankan. Saat Evey Hammond melarikan diri dari tempat V ke rumah Gordon Deitrich, diperlihatkan koleksi barang-barang terlarang itu. Termasuk foto homoerotic karya Robert Mapplethorpe dan kitab suci Al-Qur’an antik. Demikian pula detail lain seperti pakaian yang dikenakan para tokohnya, menunjukkan nuansa antagonisasi yang kental antara rakyat biasa versus penguasa yang aristocrat.

Meski sepanjang film nuansanya kelam dan miskin humor, tetapi film ini sangat bagus dalam konteks perenungan dan maknawi hakikinya. Justru aksi laga V yang kostumnya mau tak mau mengingatkan pada karakter Zorro itu malah seperti bonus saja. Termasuk saat klimaksnya V menghancurkan gedung parlemen dan jam besar “Big Ben” pada 5 November, hari yang diperingati sebagai “Guy Fawkes Night”. Film yang sangat layak dikoleksi dan dijadikan referensi ide tentang perlawanan kepada kekuasaan dan kejahatan yang membelenggu.

2 Responses so far.

  1. […] yang saya ambil dari film V-for-Vendetta (2005) di atas (resensi bisa dibaca di http://resensi-film.com) itu punya dua makna. Pertama, si pemilik ide begitu mulianya hingga tak ingin diketahui sebagai […]

Leave a Reply