Resensi Film-Bhayu MH

Victor Frankenstein

Year : 2015 Director : Paul McGuigan Running Time : 110 minutes Genre : , , , , ,
Movie review score
3/5

Nama Frankenstein tidak asing bagi mereka yang lahir dan besar mulai dari era 1950-an hingga 1970-an. Tapi mungkin terdengar asing bagi generasi sesudahnya. Sebabnya, ini adalah sosok monster yang bermula dari sebuah karya sastra abad ke-19. Terbit pertama kali tahun 1818, penulisnya adalah wanita novelis asal Inggris Mary Wollstonecraft Shelley yang lebih dikenal sebagai Mary Shelley. Novel ini punya judul sekunder yaitu “The Modern Prometheus”. Nama “Prometheus” sendiri berasal dari legenda Yunani Kuno dimana ia adalah dewa-manusia atau Titan. Keistimewaannya, ia adalah Titan yang mencuri api Zeus -dewa tertinggi- untuk diberikan pada manusia. Dia jugalah yang dipercaya sebagai pencipta manusia.

Nah, nama Victor Frankenstein sebenarnya adalah manusia yang berusaha menciptakan manusia. Karakter itu dikisahkan seorang dokter eksentrik yang hendak membuat manusia dari potongan-potongan tubuh yang dijahit untuk disatukan. Dan hasilnya lantas dihidupkan dengan listrik.

Di film ini, awalnya justru digambarkan kehidupan “si bungkuk aneh” (Daniel Radcliffe) karena bertubuh bungkuk di sebuah sirkus. Ia dianggap pecundang saja dan kerap dihina. Tugasnya adalah sebagai badut. Karakter yang jelas mengingatkan kita pada “The Hunchback of Notre Dame”, karakter dari novel karya Victor Hugo yang diterbitkan perdana tahun 1831. Meski tokoh si bungkuk tanpa nama ini kerap dihina dan ia sendiri tak tahu asal-usulnya, ia tetap berusaha bertahan. Salah satunya adalah dengan menumbuhkan harapan melalui pelajaran. Secara otodidak, ia belajar kedokteran dari berbagai literatur yang bisa didapatnya. Sehingga, ia pun memiliki kemampuan sebagai dokter walau tak pernah kuliah.

Kemampuan ini berguna ketika pemain trapeze (permainan akrobatik tali di ketinggian) bernama Lorelei (Jessica Brown Findlay) terjatuh. Wanita yang diam-diam dikaguminya itu mengalami patah di selangka dan mendesak paru-parunya hingga kesulitan bernafas. Seorang penonton pria maju ke tengah arena. Dia ternyata adalah Victor Frankenstein (James McAvoy) yang digambarkan masih berkuliah kedokteran. Ia menyadari tak mungkin bisa melarikan Lorelei ke Rumah Sakit (R.S.) yang cukup jauh. Tanpa diduga, dengan perhitungan matang, mata “si bungkuk aneh” seolah mampu melihat di balik kulit. Ia pun menggunakan kekuatan tangannya untuk meluruskan patah tulang dalam (fricture) yang diderita Lorelei. Wanita itu pun bisa bernafas kembali dan barulah dibawa ke R.S.

Victor pun terkejut sekaligus kagum. Ia mengajak “si bungkuk aneh” untuk tinggal bersamanya, tetapi dia takut. Malah, setelah kejadian itu, ia dikurung di kandang hewan. Dengan nekat, Victor membuka kunci dan membebaskannya, walau dalam proses itu harus membunuh penampil sirkus lain yang berusaha mencegah pelarian itu.

Di tempat Victor, penyakit bungkuk yang ternyata disebabkan oleh cairan semacam nanah itu disembuhkan. Caranya sangat sederhana, hanya ditusuk dengan jarum suntik yang terhubung ke selang untuk menyedotnya. Dalam sekejap, penyakit yang telah diderita selama 18 tahun itu hilang lenyap! Untuk menyangga tubuh si bungkuk agar tidak kembali bungkuk, Victor memberi semacam sabuk khusus. Karena “si bungkuk aneh” tak punya nama, maka Victor memberinya nama Igor.

Dengan bantuan Igor, Victor berupaya mewujudkan mimpi gilanya. Semula, Igor tak tahu apa yang diperbuat Victor di ruang bawah tanah. Ia hanya diminta membenahi potongan-potongan tubuh bangkai hewan agar urat dan syarafnya bisa bergerak lagi dengan bantuan listrik. Barulah setelah siap, Victor memberitahukan “ciptaan”-nya itu kepada Igor. Ciptaan itu diberinya nama Gordon, yang sebagian besar tubuhnya terdiri dari bangkai simpanse.

Upaya menghidupkan Gordon dengan listrik tidak mudah. Tetapi mereka akhirnya mampu mendemonstrasikannya di laboratorium kampus Victor. Demonstrasi ini semula disaksikan beberapa kolega, tetapi setelah percobaan pertama gagal, mereka pergi. Tetapi pada akhirnya tinggal Finnegan (Freddie Fox) seorang rekan kuliah Victor yang kaya-raya dan Lorelei yang sengaja diundang Igor. Dengan daya maksimum, akhirnya Gordon berhasil hidup walau kemudian sempat kabur dan membahayakan hingga harus dibunuh. Hal ini membuat Finnegan setuju untuk mendanai percobaan Victor berikutnya. Targetnya malah akan “menciptakan manusia” dari bangkai-bangkai yang dirangkai! Dan kelak, inilah yang akan menciptakan “monster” yang sebenarnya tanpa nama. Tetapi masyarakat lantas menamakannya sesuai nama “pencipta”-nya: Frankenstein.

Kisah mengenai “makhluk jejadian” ciptaan manusia ini sebenarnya sudah berulang kali difilmkan. Terakhir yang masih lekat di benak adalah I, Frankenstein (2014). Membandingkan satu film dengan film lain mungkin terasa kurang adil, tetapi mau tak mau penonton akan terasosiasikan.

Di film ini, sosok Victor Frankenstein digambarkan begitu detail. Sementara di I, Frankenstein sebaliknya. Ia hanya muncul di awal film untuk kemudian dibunuh justru oleh “monster ciptaannya” sendiri. Dan detail siapa “Frankenstein si monster” juga berbeda. Di sini ia hanya sosok tanpa jiwa yang tercipta di akhir film, sementara di I,Frankenstein ia malah mampu memilih jalan hidupnya sendiri.

Alur cerita yang ketat bertutur membuat film enak dinikmati dan menghibur. Walau harus jujur, sepanjang film nuansanya terasa gelap. Namun, justru itu yang hendak ditonjolkan bukan? Suasana abad pertengahan yang tatanan masyarakatnya masih kacau-balau membuat penghadiran kembalinya tentu memerlukan kerja keras. Tapi bukan Hollywood kalau tak mampu mewujudkannya.

Secara khusus, saya memberikan perhatian pada karakter yang dimainkan Daniel Radcliffe. Selepas oktalogi Harry Potter yang sangat sukses, saya baru melihatnya berakting lagi di film ini. Dan permainannya cukup lepas, mampu keluar dari karakter yang selama bertahun-tahun dimainkannya sebelumnya. Sebenarnya, ia beberapa kali bermain film lain seperti The Woman in Black (2012). Tapi saya terlewat menontonnya. Semoga saja ia mampu keluar dari “kutukan” pemain film serial franchise sukses. Karena biasanya citra karakter sebelumnya sudah melekat, sulit mendapatkan film sukses lain.

 

 

 

Leave a Reply